Pembelajaran Mendengarkan

PEMBELAJARAN MENDENGARKAN

KONSEP MENDENGARKAN

1. Pengertian Mendengarkan

Menurut Burhan (1971:81), mendengarkan adalah suatu proses menangkap, memahami, dan mengingat dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. Dalam konsep tersebut terdapat tiga tahapan proses mendengarkan. Ketiga tahapan proses mendengarkan itu adalah sebagai berikut.

a. Tahap menangkap dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya.

b. Tahap memahami dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya.

c. Tahap mengingat dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya.

2. Tujuan Mendengarkan

Tujuan orang melakukan mendengarkan bermacam-macam. Tarigan, (1981:14) menjelaskan tujuan mendengarkan adalah untuk:

a. memperoleh informasi yang ada hubungannya dengan profesi

b. meningkatkan keefektifan berkomunikasi

c. mengumpulkan data untuk membuat keputusan

d. memberikan respon yang tepat

Selain itu, Tarigan (1972: 42) menjelaskan tujuan lain dari mendengarkan yaitu untuk:

a. memperoleh pengetahuan secara langsung atau melalui radio/televisi

b. menikmati keindahan audio yang diperdengarkan atau dipagelarkan

c. mengevaluasi hasil dengaran

d. mengapresiasi bahan dengaran agar dapat menikmati serta menghargainya.

Tujuan Mendengarkan Menurut Standar Isi

Dalam Permen no. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi terdapat tujuan mendengarkan bagi siswa sekolah dasar. Tujuan tersebut terimplisit dalam Standar Kompetensi, yaitu untuk memahami:

1. penjelasan tentang petunjuk denah

2. pengumuman

3. pantun

4. penjelasan narasumber

5. cerita rakyat

6. cerita tentang suatu peristiwa

7. cerita pendek anak

8. wacana lisan

9. berita

10. drama pendek

3. Jenis-Jenis Mendengarkan

Tarigan (1983: 22) membagi jenis mendengarkan atas dasar proses mendengar yang diperoleh dari dua jenis yaitu (a) mendengarkan ekstensif, dan (b) mendengarkan intensif.

a. Mendengarkan Ekstensif

Mendengarkan ekstensif adalah proses mendengarkan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti: mendengarkan siaran radio, televisi, percakapan orang di pasar, pengumuman, dan sebagainya. Ada empat jenis kegiatan mendengarkan ekstensif, yaitu mendengarkan sekunder, sosial, estetika, dan pasif.

1) Mendengarkan sekunder

Mendengarkan sekunder adalah proses mendengarkan yang terjadi secara kebetulan. Misalnya, seseorang sedang membaca suatu bacaan sambil mendengarkan percakapan orang lain, siaran radio, suara televisi, atau yang lainnya.

2) Mendengarkan sosial

Mendengarkan sosial adalah proses mendengarkan yang dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sosial atau di tempat umum seperti di pasar, terminal, stasiun, kantor pos, atau di tempat yang umum lainnya.

3) Mendengarkan estetika

Mendengarkan estetika atau mendengarkan apresiatif yaitu proses mendengarkan untuk menikmati dan menghayati keindahan, misalnya mendengarkan pembacaan puisi, rekaman drama, cerita dan lagu.

4) Mendengarkan pasif

Mendengarkan pasif adalah proses mendengarkan suatu yang dilakukan tanpa sadar. Misalnya, kita tinggal di suatu daerah yang menggunakan bahasa daerah. Sedangkan kita sendiri menggunakan bahasa nasional. Setelah beberapa lama tanpa disadari kita dapat mampu menggunakan bahasa daerah tersebut. Kemampuan menggunakan bahasa daerah tersebut dilakukan tanpa sengaja dan tanpa sadar. Tetapi, kenyataannya orang tersebut mampu menggunakan bahasa daerah dengan baik.

b. Mendengarkan Intensif

Mendengarkan intensif adalah proses mendengarkan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan konsentrasi yang tinggi untuk menangkap, memahami, dan mengingat informasinya. Kamidjan dan Suyono, (2002: 12) menjelaskan ciri-cirinya sebagai berikut. Mendengarkan intensif adalah mendengarkan pemahaman yaitu proses mendengarkan dengan tujuan untuk memahami makna pembicaraan dengan baik. Berbeda dengan mendengarkan ekstensif yang lebih menekankan pada hiburan, kontak sosial, dan sebagainya. Mendengarkan intensif memerlukan konsentrasi tinggi yaitu pemusatan pikiran terhadap makna pembicaraan.

KONSEP PEMBELAJARAN MENDENGARKAN

1. Konsep Pembelajaran Mendengarkan

Kompetensi dasar pembelajaran mendengarkan adalah kompetensi berkomunikasi menerima informasi yang harus dikuasai oleh siswa. Proses penguasaan dan pengembangan kompetensi dasar pembelajaran mendengarkan tersebut dilakukan oleh siswa secara terus-menerus dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran mendengarkan yang dilakukan oleh siswa harus merupakan proses pemahiran mendengarkan

yang dilatihkan dan dialami. Ini berarti bahwa konsep pembelajaran mendengarkan yang dilakukan oleh siswa merupakan kegiatan mendengarkan sebagaimana yang dialami oleh siswa dalam kehidupan nyata di masyarakat.

Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa konsep pembelajaran mendengarkan dapat disusun sebagai berikut.

a. Konsep pembelajaran mendengarkan yang dilakukan oleh siswa merupakan kegiatan mendengarkan sebagaimana yang dialami oleh siswa dalam kehidupan nyata di masyarakat.

b. Konsep pembelajaran mendengarkan harus memberikan pengalaman nyata kehidupan sehari-hari dan dunia kerja yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah, dan prinsip ilmu yang dipelajari.

c.  Konsep pembelajaran mendengarkan haruslah dilakukan secara berkelompok.

d. Konsep pembelajaran mendengarkan harus disesuaikan dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik.

2. Karakteristik Pembelajaran Mendengarkan

Kerakteristik pembelajaran mendengarkan adalah pembelajaran bahasa lisan yang bersifat menerima informasi/pembelajaran berbahasa pasif. Pembelajaran berbahasa pasif itu meliputi mendengarkan berita, petunjuk, pengumuman, perintah, bunyi atau suara, bunyi bahasa, lagu, kaset, pesan, penjelasan, laporan, ceramah, khutbah, pidato, pembicaraan narasumber, dialog atau percakapan, pengumuman, serta perintah yang didengar dengan memberikan respon secara tepat serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan mendengarkan hasil sastra berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyat, cerita binatang, puisi anak, syair lagu, pantun, dan menonton drama anak.

3. Kriteria Pemilihan dan Penyusunan Bahan Pembelajaran Mendengarkan

Bahan pembelajaran mendengarkan harus memiliki kriteria sebagai berikut:

a.  Bahan pembelajaran mendengarkan merupakan informasi terbaru atau informasi yang up to date yang berbeda dengan informasi-informasi yang telah dipelajarinya.

b.  Bahan pembelajaran mendengarkan merupakan informasi yang berupa masalah yang sedikit melebihi kemampuan siswa.

c.  Bahan pembelajaran mendengarkan haruslah setaraf dengan tingkat perkembangan kognitif siswa.

d.  Bahan pembelajaran mendengarkan haruslah berupa informasi dunia nyata siswa atau pengalaman nyata siswa.

e.  Bahan pembelajaran mendengarkan haruslah disesuaikan dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik.

4. Metode Pembelajaran Mendengarkan

a. Simak- Tulis (Dikte)

Dalam teknik ini, guru membacakan atau memperdengarkan sebuah wacana singkat (diperdengarkan cukup satu kali. Siswa mendengarkan atau menyimak dengan baik, lalu menuliskan hasil simakannya.

b. Simak – Terka

Guru mendeskripsikan suatu benda atau  guru menyuruh siswa mendeskripsikan suatu benda yang diperdengarkan atau dibacakan oleh guru. Siswa mendengarkan dengan tekun, lalu menebak benda yang dimaksud.

c. Memperluas Kalimat

Guru menyebutkan sebuah kalimat, siswa menyebutkan kalimat tersebut. Kembali guru mengulangi kalimat tadi. Kemudian guru mengucapkan kata atau kelompok kata lain. Siswa melengkapi kalimat tadi dengan kelompok kata yang disebutkan terakhir oleh guru. Hasilnya adalah kalimat yang sudah diperluas dengan menambahkan kata atau kelompok kata yang telah diucapkan.

d. Simon Berkata

Seorang siswa berperan sebagai Simon dan maju ke depan kelas. Setiap Simon berkata “Silakan duduk” siswa lain menurutinya. Tetapi apabila Simon mengatakan “Simon” siswa lainnya tidak boleh mengikutinya. Kecermatan mendengarkan ucapan Simon menentukan pemberian reaksi yang tepat atau salah. Siswa yang salah mendapat hukuman.

e. Bisik Berantai

Bisik berantai ini dapat dilakukan secara berkelompok atau beberapa siswa. Apabila dilakukan oleh beberapa siswa maka guru membisikkan pada siswa pertama, siswa pertama membisikkan pada siswa kedua dan seterusnya, siswa terakhir harus menuliskan di papan tulis atau menyebutkankalimat tadi dengan nyaring.

f. Menyelesaikan Cerita

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok beranggotakan 3–4 orang. Guru memanggil anggota kelompok pertama, misalnya kelompok 1, ke depan kelas. Kelompok tersebut disuruh bercerita, judulnya bebas atau boleh juga ditentukan oleh guru. Setelah bercerita, beberapa menit kemudian, guru mempersilakannya untuk duduk. Cerita tersebut dilanjutkan oleh kelompok kedua, dan selanjutnya sampai selesai (kelompok empat).

Model ini boleh juga dilakukan dengan cara perorangan dengan cara yang sama.

g. Identifikasi Kata Kunci

Dalam mendengarkan suatu kalimat, paragraf atau wacana, kita tidak perlu menangkap semua kata-kata tetapi cukup diingat kata-kata kunci yang merupakan inti dari pembicaraan karena melalui kata-kata kuncilah menjadi kalimat-kalimat yang utuh sehingga sampai pada bahan simakan yang mempunyai makna yang lengkap.

h. Identifikasi Kalimat Topik

Dalam sebuah wacana terdiri dari beberapa paragraf. Setiap paragraf minimal mengandung dua unsur yaitu kalimat topik dan kalimat pengembang. Kalimat topik bisa terdapat di awal, tengah dan akhir paragraf.

i. Menyingkat/Merangkum

Mendengarkan bahan simakan yang agak panjang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah melalui menyingkat atau merangkum. Menyingkat atau merangkum berarti merangkum bahan yang panjang menjadi sesedikit mungkin. Namun, kalimat yang singkat tersebut dapat mewakili kalimat yang panjang.

j. Parafrase

Suatu cara yang digunakan orang dalam memahami isi puisi adalah dengan cara mengutarakan isi puisi dengan kata-kata sendiri dalam bentuk prosa. Puisi yang sudah direkam atau dibacakan guru diperdengarkan kepada siswa. Setelah selesai, siswa mengutarakan kembali dalam bentuk prosa.

k. Menjawab Pertanyaan

Cara lain untuk mengajarkan mendengarkan yang efektif ialah melalui latihan dengan menjawab pertanyaan apa, siapa, mengapa, di mana, mana, dan bilamana yang diajukan sesuai dengan bahan simakan.

5. Penentuan Media Pembelajaran Mendengarkan

Media pembelajaran merupakan alat bantu yang digunakan guru untuk mempermudah proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan urutan kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk menguasai kompetensi dasar. Oleh karena itu, penentuan media pembelajaran selalu berkaitan dengan kompetensi dasar.

Karakteristik pembelajaran mendengarkan adalah pembelajaran berbahasa lisan yang bersifat pasif atau menerima informasi. Media yang dapat digunakan untuk itu adalah alat ucap guru atau siswa atau rekaman yang dibuat oleh guru untuk kepentingan pembelajaran tersebut.

6. Kriteria Penilaian Pembelajaran Mendengarkan

Sesuai dengan namanya tes mendengarkan, bahan tes yang diujikan disampaikan secara lisan dan diterima siswa melalui sarana pendengaran. Menurut Burhan Nurgiyantoro (2001: 239) penilaian mendengarkan dapat dilakukan dengan berbagai cara.

a. Tingkat ingatan

Tes kemampuan mendengarkan pada tingkat ingatan untuk mengingat fakta atau menyebutkan kembali fakta-fakta yang terdapat dalam wacana yang diperdengarkan, dapat berupa nama, peristiwa, angka, dan tahun. Tes bisa berbentuk tes objektif isian singkat atau pilihan ganda.

b. Tingkat pemahaman

Tes pada tingkat pemahaman menuntut siswa untuk memahami wacana yang diperdengarkan. Kemampuan pemahaman yang dimaksud mungkin terhadap isi wacana, hubungan antaride, antarfaktor, antarkejadian, hubungan sebab akibat. Akan tetapi kemampuan pemahaman pada tingkat pemahaman ini belum kompleks benar, belum menuntut kerja kognitif tingkat tinggi. Jadi, kemampuan pemahaman dalam tingkat yang sederhana. Dengan kata lain, butir-butir tes tingkat ini belum sulit.

c. Tingkat Penerapan

Butir-butir tes kemampuan mendengarkan yang dapat dikategorikan tes tingkat penerapan adalah butir tes yang terdiri dari pernyataan (diperdengarkan) dan gambar-gambar sebagai alternatif jawaban yang terdapat di dalam lembar tugas.

d. Tingkat Analisis

Tes kemampuan mendengarkan pada tingkat analisis pada hakikatnya juga merupakan tes untuk memahami informasi dalam wacana yang diteskan. Akan tetapi, untuk memahami informasi atau lebih tepatnya memilih alternatif jawaban yang tepat itu, siswa dituntut untuk melakukan kerja analisis. Tanpa melakukan analisis wacana, jawaban yang tepat secara pasti belum dapat ditentukan. Dengan demikian, butir tes tingkat analisis lebih kompleks dan sulit daripada butir tes pada tingkat pemahaman.

Analisis yang dilakukan berupa analisis detail-detail informasi,  mempertimbangkan bentuk dan aspek kebahasaan tertentu, menemukan hubungan kelogisan, sebab akibat, hubungan situasional, dan lain-lain.

Menurut Power dalam Safari ( 1997: 61) ada tiga jenis pertanyaan pemahaman dalam ujian mendengarkan yaitu: Siswa memilih satu pertanyaan yang sama maksudnya dengan pernyataan yang didengar. Didengarkan percakapan singkat dari dua orang kemudian ditanyakan tentang isi percakapan yang telah diperdengarkan (pernyataan hanya diperdengarkan satu kali). Didengarkan pidato/percakapan/bacaan kemudian ditanyakan beberapa pertanyaan dari cerita tersebut.

a. Aspek yang Dinilai

Aspek yang dinilai dalam mendengarkan didasarkan pada ruang lingkup dan tingkat kedalaman pembelajaran serta Kompetensi Dasar yang sudah ditetapkan di dalam Kurikulum khususnya dalam indikator. Bagi siswa, dapat  diketahui bahwa aspek yang belum dikuasai dalam pengalaman belajar yang dikembangkan dari indikator. Sedangkan bagi guru dapat diketahui aspek apa yang belum diajarkan pada siswa. Selain itu penilaian pembelajaran mendengarkan ini tujuannya adalah untuk mengetahui apakah semua yang telah dialami siswa dalam proses pembelajaran sudah sesuai dengan kompetensi dasar khususnya dalam indikator.

Secara umum aspek yang dinilai dalam pembelajaran mendengarkan adalah sebagai berikut:

1)  Aspek Kebahasaan:

a) Pemahaman isi

b) Kelogisan penafsiran

c) Ketepatan penangkapan isi

d) Ketahanan konsentrasi

e) Ketelitian menangkap dan kemampuan memahami

2) Aspek Nonkebahasaan:

a) Pelaksanaan dan Sikap

b) Menghormati

c) Menghargai

d) Konsentrasi /kesungguhan mendengarkan

e) Kritis

b. Bentuk-bentuk Pertanyaan Mendengarkan

Dalam penilaian mendengarkan, guru dapat memilih bentuk pertanyaan sebagai berikut.

a) Mengucapkan kembali (menirukan) hal yang didengar.

Contoh: Soal : Diperdengarkan kata “pasif”

(Siswa menirukan/menuliskan)

b) Melaksanakan petunjuk/perintah yang diperdengarkan

Contoh: Soal: Diperdengarkan sebuah petunjuk/perintah

“Pelajaran di kelas dimulai pukul 7.05”.

(Siswa menuliskan)

c) Menjawab pertanyaan apa, siapa, kapan, di mana, bagaimana (berdasarkan pertanyaan yang didengar)

Contoh: Apakah yang dikerjakan siswa?

d) Menerka nama benda, binatang atau tanaman dan lain-lain berdasarkan deskripsi yang disampaikan.

Contoh: Seekor binatang yang merajai hutan, bertaring dan ganas dalam memangsa hewan tangkapan.

e) Menerima dan menyampaikan pesan atau hal-hal penting yang diperoleh melalui telepon.

Contoh: Sejak tanggal 21 sampai dengan 30 Oktober 2001, kami berlibur ke Bandung.

f)  Menanyakan berbagai hal berdasarkan tema atau topik yang didengar.

Contoh: Bagaimana sifat tokoh A dalam cerita yang kamu simak tadi?

g) Menentukan satu di antara empat gambar (A, B, C, D) berdasarkan karangan yang didengar.

Contoh: Setelah diperdengarkan beberapa kata atau kalimat, siswa disuruh menunjukkan nama atau  kegiatan yang tepat berdasarkan gambar dari kata atau kalimat yang diperdengarkan.

Misal:  (1) Nani makan pisang.

(2) Darlis menulis surat.

(3) Kakak membaca koran.

(4) Ibu menanak nasi.

RANCANGAN PEMBELAJARAN MENDENGARKAN

1. Penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam Indikator

a. Kompetensi Dasar

Kompetensi dasar dalam  pembelajaran bahasa Indonesia di SD adalah kompetensi berkomunikasi yang harus dikuasai oleh siswa. Proses penguasaan dan pengembangan kompetensi dasar tersebut dilakukan oleh siswa secara terus-menerus dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa harus merupakan proses pemahiran yang dilatihkan dan dialami. Ini berarti bahwa proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa merupakan kegiatan berbahasa sebagaimana yang dialami siswa dalam kehidupan nyata di masyarakat. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa kompetensi dasar adalah kompetensi berkomunikasi yang harus dikuasai oleh siswa melalui kegiatan berbahasa sebagaimana yang dialami oleh siswa dalam kehidupan nyata di masyarakat.

b. Indikator

Kompetensi berkomunikasi di atas, dapat dicapai oleh siswa melalui proses pembelajaran secara bertahap. Tahapan-tahapan pembelajaran tersebut merupakan serangkaian indikator. Depdiknas  menjelaskan bahwa “Indikator merupakan uraian kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam berkomunikasi secara spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar.”

Dua hal penting terdapat dalam pendapat tersebut, yaitu pertama,  indikator merupakan uraian kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam berkomunikasi secara spesifik. Ini berarti bahwa untuk menguasai indicator tersebut siswa harus melakukan kegiatan berkomunikasi sebagaimana yang tertulis pada indikator dan yang dialami oleh siswa dalam kehidupan nyata di  masyarakat. Selain itu, kegiatan berkomunikasi yang dilakukan oleh siswa secara spesifik. Maksud kegiatan berkomunikasi secara spesifik adalah topik komunikasinya harus spesifik.

Hal penting kedua adalah indikator dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar. Dengan kata lain, bahwa indikator itu merupakan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa selama dan sesudah proses pembelajaran. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa apabila seorang siswa mampu melakukan indikator dan setelah dinilai dia memperoleh skor sesuai dengan atau lebih tinggi dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), maka siswa tersebut dinyatakan telah mampu mencapai kompetensi dasar tersebut.

Itulah sebabnya, Depdiknas menjelaskan bahwa indikator dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar. Berdasarkan penjelasan di atas dapat dinyatakan bahwa indikator merupakan urutan kegiatan berbahasa sebagaimana yang dialami oleh siswa dalam kehidupan nyata di masyarakat untuk mencapai kompetensi dasar.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa urutan indikator yang akan disusun oleh guru harus merupakan urutan kegiatan pembelajaran berbahasa siswa sebagaimana yang dialami oleh siswa dalam kehidupan nyata di masyarakat. Urutan kegiatan pembelajaran tersebut untuk mencapai kompetensi dasar dan sekaligus merupakan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa sebagai tolok ukur untuk menilai ketercapaian hasil belajar.

Contoh:

Kompetensi dasar kelas IV:  Mendengarkan penjelasan tentang petunjuk.

Indikator                                  : 1) Mencatat pokok-pokok petunjuk sesuai dengan yang didengar.

2) Menuliskan isi petunjuk ke dalam beberapa kalimat.

3) Menyampaikan isi petunjuk dengan tepat kepada orang lain.

Standar Nasional Pendidikan menjelaskan bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru adalah untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Tujuan pendidikan nasional dapat dicapai melalui kompetensi dasar dari standar isi yang selanjutnya dikembangkan menjadi beberapa indikator.

Kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik yang merupakan pengalaman hidup siswa dapat dicapai dengan cara mengintegrasikannya ke dalam kompetensi dasar dan indikator. Oleh sebab itu, kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kompetensi dasar dan indikator di atas akan menjadi sebagai berikut.

Kompetensi dasar : Mendengarkan penjelasan tentang petunjuk, akan menjadi: Mendengarkan penjelasan tentang petunjuk memelihara bibit ikan (bagi daerah perikanan) atau mendengarkan penjelasan tentang petunjuk membuat tape (bagi daerah industri tape).

Begitu juga indikatornya harus mengikutinya, maka indikatornya akan menjadi sebagai berikut.

1) Mencatat pokok-pokok petunjuk membuat tape atau memelihara ikan sesuai dengan yang didengar.

2) Menuliskan isi petunjuk membuat tape atau memelihara ikan ke dalam beberapa kalimat.

3) Menyampaikan isi petunjuk membuat tape atau memelihara ikan dengan tepat kepada orang lain.

2. Penentuan Materi dan Pemilihan Bahan Ajar

Depdiknas menjelaskan bahwa “Indikator merupakan uraian kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam berkomunikasi secara spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar.” Uraian kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam berkomunikasi secara spesifik tersebut di dalamnya terdapat materi pembelajaran. Materi pembelajaran adalah materi yang harus dikuasai oleh siswa melalui pembelajaran. Materi tersebut sudah tertulis dalam kompetensi dasar dan indikator. Selanjutnya, materi pembelajaran tersebut dikembangkan oleh guru menjadi bahan ajar.

3. Penentuan Metode

Penentuan metode pembelajaran disesuaikan dengan kompetensi dasar dan indikator.  Sebagai contoh, berikut ini dikutipkan lagi kompetensi dasar dan indikator sebagai berikut.

Kompetensi Dasar

Mendengarkan penjelasan tentang petunjuk membuat tape.

Indikator

1. Mencatat pokok-pokok petunjuk membuat tape sesuai dengan yang didengar.

2. Menuliskan isi petunjuk membuat tape ke dalam beberapa kalimat.

3. Menyampaikan isi petunjuk membuat tape dengan tepat kepada orang lain.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan oleh siswa adalah pertama siswa harus mampu mencatat pokok-pokok petunjuk membuat tape sesuai dengan yang didengar. Kemudian, siswa diminta untuk menuliskan isi petunjuk membuat tape ke dalam beberapa kalimat. Selanjutnya, siswa ditugasi untuk menyampaikan isi petunjuk membuat tape dengan tepat kepada orang lain. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa tersebut adalah teknik pembelajaran. Rangkaian dari teknik pembelajaran tersebut merupakan metode. Metode yang terdapat dalam rangkaian teknik tersebut adalah metode penemuan atau inkuiri.

Mengapa metode inkuiri? Sekarang kita perhatikan penjelasan berikut ini. Ketika siswa mencatat pokok-pokok petunjuk membuat tape sesuai dengan yang didengar, maka siswa dituntut untuk menemukan pokok-pokok petunjuk. Selanjutnya, temuan siswa tersebut yaitu pokok-pokok petunjuk membuat tape sesuai dengan yang didengar, selanjutnya siswa menguji temuannya itu melalui indikator kedua yaitu menuliskan isi petunjuk membuat tape ke dalam beberapa kalimat. Bila pengujian tersebut dinyatakan benar, selanjutnya siswa ditugasi mengerjakan indikator yang ketiga yaitu untuk menyampaikan isi petunjuk membuat tape dengan tepat kepada orang lain.

Berdasarkan penjelasan di atas, siswa sedang melakukan proses penemuan pokok-pokok petunjuk membuat tape sesuai dengan yang didengar. Selanjutnya, pokok-pokok petunjuk membuat tape diujinya melalui kegiatan yang tertulis pada indikator kedua. Setelah hasil pengujian terhadap penemuan itu dinyatakan benar, selanjutnya, siswa melakukan kegiatan yang tertulis pada indikator ketiga yaitu menyampaikan isi petunjuk membuat tape dengan tepat kepada orang lain. Dengan demikian, maka metode yang digunakan untuk mencapai kompetensi dasar di atas adalah metode inkuiri atau metode penemuan.

4. Pengembangan Langkah Pembelajaran

Langkah-langkah pembelajaran mendengarkan sama dengan langkah-langkah pembelajaran aspek berbahasa yang lainnya yaitu aspek berbicara, membaca, atau pun menulis. Langkah-langkah pembelajaran tersebut meliputi pembelajaran tahap pendahuluan, tahap inti, dan tahap penutup.

5. Penentuan Sumber dan Media Pembelajaran

Depdiknas  menjelaskan bahwa “Indikator merupakan uraian kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam berkomunikasi secara spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar.”

Uraian kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam berkomunikasi secara spesifik tersebut di dalamnya terdapat materi pembelajaran. Materi pembelajaran adalah materi yang harus dikuasai oleh siswa melalui pembelajaran. Materi tersebut sudah tertulis dalam kompetensi dasar dan indikator.

Selanjutnya, materi pembelajaran tersebut dikembangkan oleh guru menjadi bahan ajar. Bila kompetensi dasar yang ingin dicapai berbunyi, “Mendengarkan pesan lewat tatap muka atau telepon dan mencatat isi pesan,” maka bahan ajarnya adalah teks pesan untuk diperdengarkan. Teks tersebut dapat disusun sendiri oleh guru. Ketika guru menyusun teks yang akan diperdengarkan sebagai bahan ajar, maka guru harus menjadikan keunggulan daerah atau pengalaman siswa sebagai topik bahan ajar tersebut. Misal topiknya tentang pertandingan sepak bola. Maka kompetensi dasarnya adalah “Mendengarkan pesan tentang pertandingan sepak bola lewat tatap muka atau telepon dan mencatat isi pesan.”

Dalam kompetensi dasar tersebut sudah terdapat sumber belajar yaitu pengalaman siswa. Mengapa pengalaman siswa? Kita sudah memaklumi bahwa pesan tentang pertandingan sepak bola sudah menjadi pengalaman siswa. Maksudnya, bahwa pesan tentang pertandingan sepak bola sudah pernah bahkan sering didengar oleh siswa. Sedangkan, teks pengumuman tentang pertandingan sepak bola tersebut adalah media pembelajaran.  Tetapi sebaliknya, apabila bahan ajar itu diambil dari kegiatan berbahasa yang nyata terjadi dalam masyarakat, misalnya kompetensi dasar, ”Mendengarkan pembacaan berita di televisi atau radio,” maka sumber belajarnya adalah berita di televisi atau radio. Sedangkan, televisi atau radio adalah media pembelajarannya. Jadi, untuk menentukan sumber belajar dan media pembelajaran sangat bergantung pada kompetensi dasar yang akan dicapai.

6. Penilaian Hasil Belajar

Permendiknas, nomor 20 tahun 2007 tentang Standar Penilaian menjelaskan bahwa penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian proses adalah penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk mengetahui kemajuan belajar siswa dan kelancaran proses pembelajaran guru dapat dengan segera mengetahui siswa yang mengalami kemacetan belajar dan memberikan bantuan agar siswa yang bersangkutan dapat mengatasinya. Oleh karena itulah, penilaian proses merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.

Depdiknas menjelaskan, “Pembelajaran yang benar, memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari, bukan ditekankan pada sebanyak mungkin informasi yang diperoleh pada akhir pembelajaran.” Penilaian proses dilakukan untuk memperoleh informasi yang benar dan akurat tentang apa yang telah diketahui dan dapat dilakukan oleh siswa serta untuk menjelaskan manfaatnya dalam konteks kehidupan nyata. Hymes (1991) dalam Depdiknas (2003c:25) menjelaskan, “Penilaian proses memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, menyelesaikan/memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi di dalam dunia nyata, seperti tempat kerja.”

Sehubungan dengan pendapat di atas, maka dapat dikatakan bahwa penilaian proses lebih menekankan pada apa yang dapat dilakukan oleh siswa (keterampilan) dan manfaatnya dalam dunia kerja daripada pengetahuan.

Pernyataan di atas, sejalan dengan pendapat Taylor dalam Moesa (1982:97) yang menyatakan, bahwa “Pengetahuan merupakan alat untuk mencapai tujuan, bukan tujuan. Sebab pendidikan bukanlah kumpulan pengetahuan, melainkan rangkaian sikap, perasaan, persepsi, pandangan, dan kemampuan berpikir secara bebas dan jelas.” Selanjutnya dijelaskan, bahwa “Siswa tidak akan memiliki pengetahuan, jika tidak secara aktif mengambil bagian dalam proses pembelajaran untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Cara memperoleh pengetahuan lebih penting dari pengetahuan itu sendiri.”

Penilaian proses lebih menekankan pada apa yang dapat dilakukan oleh siswa (keterampilan) dan manfaatnya dalam dunia kerja daripada pengetahuan. Sehubungan dengan pernyataan tersebut, Depdiknas menjelaskan bahwa “Indikator merupakan uraian kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam berkomunikasi secara spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar.” Dalam penjelasan tersebut dinyatakan bahwa indikator dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar. Dengan kata lain, bahwa untuk menilai atau mengukur ketercapaian hasil belajar adalah indikator. Ini berarti bahwa alat tes yang dibuat olah guru harus relevan dengan indikator dan dilaksanakan untuk mengukur ketercapaian hasil belajar selama proses pembelajaran. Oleh karen itu, alat tesnya harus relevan

dengan atau mengukur indikator. Berikut ini, dikutipkan kompetensi dasar dan indikator di atas sebagai cara

bagi guru untuk menyusun alat tes sebagai berikut.

Kompetensi Dasar

Mendengarkan penjelasan tentang petunjuk membuat tape.

Indikator

1) Mencatat pokok-pokok petunjuk membuat tape sesuai dengan yang didengar.

2) Menuliskan isi petunjuk membuat tape ke dalam beberapa kalimat.

3) Menyampaikan isi petunjuk membuat tape dengan tepat kepada orang lain.

Alat tes yang dibuat guru untuk mengukur ketercapaian indikator adalah sebagai berkut.

a) Catat pokok-pokok petunjuk membuat tape sesuai dengan yang didengar.

b) Tuliskan isi petunjuk membuat tape ke dalam beberapa kalimat.

c) Sampaikan isi petunjuk membuat tape dengan tepat kepada orang lain.

7. Rancangan Tindak Lanjut

Rancangan tindak lanjut merupakan kelanjutan dari refleksi. Wardani (2002: 2.24) menjelaskan,”Refleksi adalah proses berpikir ke belakang yang dilakukan oleh siswa dengan menggunakan proses berpikir analisis-sintesis atau deduktif-induktif,” Depdiknas  menjelaskan, ”Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah kita lakukan. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.” Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dikemukakan bahwa refleksi adalah proses berpikir analisis-sintesis atau deduktif-induktif terhadap apa yang baru dipelajari dan dilakukan atau respon siswa terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterimanya.

Dalam pembelajaran siswa telah melakukan berbagai aktivitas pembelajaran yang bermakna untuk memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan sikap sesuai dengan indikator yang dicapainya. Pada akhir pembelajaran siswa ditugasi untuk memberikan respon dengan cara berpikir ke belakang, baik secara analisis-sintesis atau deduktif-induktif tentang, (1) apa manfaat dan seberapa banyak indikator yang dapat dicapainya dan yang gagal dicapai, (2) mencari sebab-sebab kegagalan pencapaian indikator serta bagaimana solusi untuk mengatasinya serta (3) kapan dan di mana indikator-indikator yang telah dilakukan oleh siswa tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan nyata di masyarakat.

Hasil refleksi siswa tersebut berupa kesan, pesan, atau saran yang harus ditanggapi, dicatat, dan dijadikan dasar oleh guru untuk melakukan peningkatan dan perbaikan hasil belajar serta untuk memperbaiki perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang bersangkutan dan menyusun perencanaan pelaksanaan pembelajaran berikutnya.

RANGKUMAN

Mendengarkan adalah suatu proses menangkap, memahami, dan mengingat dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya Berdasarkan pengertian tersebut ada tiga tahapan proses mendengarkan, yaitu (1) tahap menangkap dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. (2) tahap memahami dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya, dan (3) tahap mengingat dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya.

Menurut Tarigan tujuan mendengarkan adalah untuk: (1)memperoleh informasi yang ada hubungan dengan profesi (2) meningkatkan keefektifan berkomunikasi. (3) mengumpulkan data untuk membuat keputusan. (4) memberikan respon yang tepat, (4) memperoleh pengetahuan secara langsung atau melalui radio/televisi.(5) menikmati keindahan audio yang diperdengarkan atau dipagelarkan.(6) mengevaluasi hasil dengaran, dan (7) mengapresiasi bahan dengaran agar dapat menikmati serta menghargainya.

Tujuan mendengarkan di sekolah dasar menurut standar isi terimplisit dalam Standar Kompetensi yaitu untuk memahami (1) penjelasan tentang petunjuk denah (2) pengumuman dan berita (3) penjelasan narasumber dan cerita rakyat secara lisan (4) cerita tentang suatu peristiwa dan cerita pendek anak, (5) teks dan cerita anak, pantun, yang dibacakan,(6) wacana lisan tentang dan drama pendek.

Ada dua jenis mendengarkan menurut Tarigan, yaitu (1) mendengarkan ekstensif, yang terdiri dari mendengarkan sekunder, sosial, estetika, dan pasif. dan (2) mendengarkan intensif. Selanjutnya, keberhasilan mendengarkan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: faktor fisik, psikologis, pengalaman, sikap, motivasi, jenis kelamin, dan yang lainnya.

Kompetensi dasar pembelajaran mendengarkan adalah kompetensi berkomunikasi menerima informasi yang harus dikuasai oleh siswa melalui proses pemahiran mendengarkan yang dilatihkan dan dialami. Oleh karena itu, konsep pembelajaran mendengarkan harus disusun sebagai berikut: (1) konsep pembelajaran mendengarkan yang dilakukan oleh siswa merupakan kegiatan mendengarkan sebagaimana yang dialami oleh siswa dalam kehidupan nyata di masyarakat, (2) konsep pembelajaran mendengarkan harus memberikan pengalaman nyata kehidupan sehari-hari dan dunia kerja yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah, dan prinsip ilmu yang dipelajari, (3) konsep pembelajaran mendengarkan haruslah dilakukan secara berkelompok, (4) konsep pembelajaran mendengarkan harus disesuaikan dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik.

Dalam menentuan media pembelajaran mendengarkan hendaknya selalu  dikaitkan dengan kompetensi dasar. Media yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran mendengarkan dapat berupa pembacaan langsung oleh guru atau siswa atau melalui media baik media cetak atau media elektronik.

Indikator merupakan uraian kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam berkomunikasi secara spesifik yang dialami oleh siswa dan dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar. Untuk mengukur keberhasilan mendengarkan diperlukan alat penilaian. Alat penilaian yang digunakan harus didasarkan pada kriteria penilaian tertentu. Adapun kriteria yang dapat digunakan dalam mendengarkan adalah (1) alat penilaian harus merupakan kegiatan mendengarkan sebagaimana yang dialami oleh siswa dalam kehidupan nyata di masyarakat. (2) Alat penilaian harus mengukur indikator.

Uraian kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam berkomunikasi secara spesifik di dalamnya terdapat materi pembelajaran. Materi pembelajaran adalah materi yang harus dikuasai oleh siswa melalui pembelajaran. Materi tersebut sudah tertulis dalam kompetensi dasar dan indikator yang kemudian dikembangkan oleh guru menjadi bahan ajar. Bahan ajar ini disampaikan melalui kegiatan pembelajaran yang disebut teknik pembelajaran. Rangkaian dari teknik pembelajaran tersebut merupakan metode. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran mendengarkan adalah metode penemuan atau inkuiri.

Langkah-langkah pembelajaran mendengarkan meliputi (1) pembelajaran tahap pendahuluan, (2) tahap inti, dan (3) tahap penutup. Pada tahap pendahuluan kegiatannya antara lain: menumbuhkan dan meningkatkan motivasi siswa misalnya dengan memahami kompetensi dasar dan indikator, menemukan sendiri manfaat memiliki kemampuan mendengarkan yang tertulis dalam rangkaian indikator. Tahap inti merupakan urutan kegiatan berbahasa sebagaimana yang dialami oleh siswa dalam kehidupan nyata di masyarakat untuk mencapai kompetensi dasar, selain itu kegiatan evaluasi proses atau evaluasi formatif juga dapat dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Terakhir, pada kegiatan penutup dapat memberikan tugas kelompok atau individu untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang baru dimilikinya dalam kehidupan nyata, serta mengucapkan terima kasih dan salam untuk membiasakan siswanya untuk meningkatkan kesadaran diri sebagai hamba Tuhan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: