PROGRAM PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SEKOLAH DASAR DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN KTSP, SILABUS DAN RPP MELALUI ASESMEN PORTOFOLIO HASIL PELATIHAN DI KECAMATAN MENUKUNG KABUPATEN MELAWI KALIMANTAN BARAT

Oleh, Yakobus Ason, M.Pd

Latar Belakang

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), merupakan tuntutan pelaksanaan pembaharuan pendidikan yang diharapkan dapat mendukung segala upaya untuk memecahkan masalah pendidikan. Dalam proses pembelajaran, kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting, selain guru, sarana dan prasarana pendidikan lainnya. Oleh karena itu, kurikulum digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pendidikan dan sekaligus sebagai salah satu indikator mutu pendidikan. Di Indonesia tercatat telah lima kali revisi kurikulum pendidikan dasar dan menengah, yaitu pada tahun 1968, tahun 1975, tahun 1984, tahun 1994 dan ujicoba kurikulum tahun 2004 yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang direvisi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. Revisi kurikulum tersebut bertujuan untuk mewujudkan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, guna mengantisipasi perkembangan jaman, serta untuk memberikan guideline atau acuan bagi penyelenggaraan pembelajaran di satuan pendidikan. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa, ”Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan, dan kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik”.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum baru hasil uji coba Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Oleh karena itu ketika draf kurikulum (KTSP) disosialisasikan hangat dibicarakan di mana-mana, baik oleh pemerintah maupun oleh para pelaksana pendidikan di lapangan.   Hal ini terjadi karena keberadaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ini sempat membingungkan bagi sebagian orang yang berkecimpung dan menaruh perhatian terhadap pendidikan. Bahkan komentar yang sering kita dengar adalah,”ganti Menteri ganti kebijakan, ganti juga kurikulum.” Padahal dengan KTSP ini diharapkan menjadi ”dongkrak” kualitas pendidikan yang kondisinya semakin terpuruk dan mengkhawatirkan.

Menurut Khaeruddin (2007), ”Kurikulum Tigkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum yang paling tepat untuk menjebatani kesalahpahaman berbagai pihak dalam menafsirkan kurikulum. Kurikulum bukan merupakan sesuatu yang sekali jadi, namun kurikulum itu harus fleksibel dan selalu dinamis. Dengan demikian bisa membentuk  dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi sekolah, karakteristik peserta didik, dan kebutuhan lingkungan masing-masing. Jadi perubahan kurikulum merupakan proses berlanjut dan berkesenambungan menuju suatu kesempurnaan.”

Namun karena dalam pelaksanaannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini menuntut prakarsa Kepala Sekolah dan Guru di setiap satuan pendidikan untuk menggerakkan mesin utama pendidikan yakni pembelajaran, maka dirasa sangat memberatkan mereka. Apalagi para Guru dituntut untuk menyusun sendiri kurikulum yang sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing adalah merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan sangat berat bagi mereka, sehingga muncul komentar atau persepsi bahwa KTSP membebani guru.

Ketika pertama kali KTSP dicanangkan sebagai kurikulum, para pengawas, kepala sekolah dan guru merasa bingung , resah, dan was-was karena seolah-olah dengan keberadaan KTSP pekerjaan mereka terutama para guru beban tugasnya bertambah. Tugas dan tanggung jawab guru dalam kurikulum ini bertambah berat, karena KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan ujung tombaknya adalah guru dan kepala sekolah. Dalam KTSP , kiprah guru lebih dominan lagi, terutama dalam menjabarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, tidak saja dalam program tertulis tetapi juga dalam pembelajaran nyata di kelas.  Pelaksanaan KTSP ini mengacu pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 dikatakan :

1.     Pengembangan kurikulum dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

2.     Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip deverervikasi sesuai dengan satuan pendidiikan, potensi daerah, dan peserta didik.

3.     Kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).”

Dalam kaitannya dengan pengembangan stadar kompetensi, guru harus mampu menyusun silabus dan  mengembangkannya sebagai penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi standar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). 

Penyusunan silabus harus dikembangkan dengan memperhatikan prinsip ilmiah, relevan, fleksibel, dan menyeluruh. Dengan demikian tugas guru dan kepala sekolah dalam rangka implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan ini tidaklah mudah bahkan boleh dikatakan sulit sekali. Walaupun pada prinsipnya KTSP sebenarnya bukan hal yang baru, melainkan hanya modifikasi dari kurikulum yang sudah ada. Akan tetapi mau tidak mau model KTSP menuntut kreativitas, kesiapan dan profesionalisme guru serta menjadi peluang untuk mengembalikan otonomi pendidikan, otonomi sekolah dan otonomi guru dalam menyusun model pendidikan yang sesuai dengan kondisi lokal.

KTSP sesungguhnya menjadi peluang bagi sekolah, kepala sekolah dan guru untuk melaksanakan otonomi pendidikan sebagai dampak dari adanya desentralisasi pendidikan. Hal ini singkron dengan apa yang telah dicanangkan mengenai konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Sebagaimana yang dikatakan oleh Martin Handoko, bahwa manajemen berbasis sekolah sebagai sistem manajemen yang bertumpu pada pola situasi-kondisi dan kebutuhan sekolah setempat. Sekolah diharap mengenali kekuatan dan kelemahannya, potensi-potensinya, peluang dan ancaman yang dihadapinya, sebagai dasar dalam menentukan kebijakan-kebijakan pendidikan yang akan diambilnya.

Berdasarkan analisis di atas lalu sekolah dapat dengan tepat menentapkan program-program pengembangannya untuk jangka waktu tertentu yang mungkin berbeda dari sekolah yang lain. MBS dikembangkan dengan kesadaran bahwa setiap sekolah memiliki kondisi, situasi serta kebutuhan yang berbeda-beda.”

Bagaimana kondisi di lapangan ? Kenyataan menunjukkan bahwa meskipun KTSP sudah disosialisasikan sejak empat atau lima tahun yang lalu, namun pada kenyataanya sampai saat ini tidak semua sekolah  mampu mengimplementasikannya, terutama sekolah-sekolah yang terdapat di daerah pedalaman yang terpencil dan jauh dari kota. Situasi yang dialami di lapangan dengan ketidak siapan sekolah untuk melaksanakan KTSP, bisa dipahami karena selama Orde Baru dengan diterapkannya sentralisasi pendidikan oleh pemerintah pusat para guru sebagai pelaksana pendidikan di lapangan tidak pernah dilibatkan dalam penyusun kurikulum. Selama ini kurikulum dibuat oleh pemerintah pusat secara sentralistik dan berlaku bagi seluruh anak bangsa di seluruh tanah air Indonesia. Karena kurikulum dibuat secara sentralistik, setiap satuan pendidikan diharuskan untuk melaksanakan dan mengiplementasikannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) yang disusun oleh pemerintah pusat menyertai kurikulum tersebut. Dalam hal ini, setiap sekolah tinggal menjabarkan kurikulum yang dibuat oleh pusat (pusat kurikulum/puskur, sekarang Badan Standar Nasional Pendidikan/BSNP) ke dalam satuan pelajaran sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Oleh karena itu para guru terbiasa dengan juklak dan juknis kurikulum yang mereka terima dan melaksanakannya sesuai dengan juklak dan juknis tersebut, akibatnya kreativitas dan otonomi mereka sebagai guru terhambat.

Karena terbiasa disuguhkan dengan kurikulum yang sudah jadi baik oleh Dinas Pendidikan sendiri maupun oleh para penerbit buku ajar, menyebabkan para guru kurang kreatif di dalam mengembangkan kurikulum. Oleh karena itu bisa dimengerti, ketika harus menyusun sendiri kurikulum sekolahnya, para kepala sekolah dan guru mengalami kesulitan besar.

Fakta membuktikan bahwa di Kecamatan Manukung Kabupaten Melawi dan mungkin juga di daerah lain yang terpencil, KTSP belum dilaksanakan sebagaimana menstinya. Berdasarkan pengalaman para guru PNS dan guru kontrak yang mengikuti penyetaraan D-II  program khusus pendidikan guru dalam jabatan yang diselenggarakan STKIP Melawi tahun akademik 2008/2009 yang lalu, dijumpai bahwa mereka masih mengajar menggunakan Kurikulum  Berbasis Kompetensi (KBK), bahkan kurikulum 1994 atau1999. Berdasarkan pengalaman tersebut maka perlu diadakan pelatihan dalam rangka implementasi KTSP bagi guru-guru yang bertugas di daerah terpencil.

Perguruan Tinggi sebagai pusat pemeliharaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bertujuan untuk mendidik mahasiswa dan dosen agar berjiwa penuh pengabdian serta memiliki gairahan untuk meneliti dan memiliki sikap tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara. Kiprah Perguruan Tinggi bagi usaha pembangunan nasional dan daerah ini perlu ditingkatkan peranannya sesuai dengan kebutuhan saat ini dan di masa-masa mendatang.

Berkenaan dengan hal tersebut, maka Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) merupakan salah satu unsur penting dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, Ketiga unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut wajib dilaksanakan oleh segenap Civitas Akademika Perguruan Tinggi  dengan ujung tombaknya adalah dosen dan mahasiswa. Pengabdian kepada masyarakat wajib dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa baik secara individu maupun secara berkelompok yang diprogramkan  oleh Perguruan Tinggi atau oleh unit tertentu dalam lembaga atau institusi Perguruan Tinggi. 

Sebagai lembaga/institusi baru, STKIP Melawi sebagai salah satu Perguruan Tinggi yang ada di daerah, memiliki peranan penting dalam rangka ikut serta membangun bangsa melalui dunia pendidikan tinggi. Oleh karena itu keberadaan STKIP Melawi diharapkan mampu mengemban tugas dan tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daereh dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional


Rumusan Masalah 

Pengembangan Program Peningkatan Kompetensi Guru SD dalam Implementasi KTSP Melalui Asesmen Portofolio tersebut dijabarkan berupa pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1.  Bagaimana kompetensi awal guru-guru SD tentang KTSP dan   pemahaman mereka tentang asesmen portofolio ?

2. Bagaimana mengembangkan pemahaman guru tentang Silabus dan RPP   melalui asesmen portofolio ?

3.   Bagaimana mengembangkan keterampilan guru dalam menyusun  silabus dan RPP ?

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa  kompetensi guru  sekolah dasar dalam mengimplementasikan KTSP melalui asesmen portopolio dapat ditingkatkan Program peningkatan kompetensi guru tersebut perlu dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan dalam rangka menyelesaikan permasalahan pembelajaran guru di kelas. Dalam pelaksanaan program pelatihan ini menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan sistematika, prosedur dan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam rangka memahami KTSP. Selanjutnya metode tugas mengerjakan Lembaran Kerja Terbimbing (LKT), merupakan metode pelatihan yang efektif dalam rangka memudahkan peserta pelatihan memahami tentang KTSP, Silabus dan RPP serta asesmen portofolio.

Melalui tugas kelompok untuk mengerjakan Lembar Kerja Terbimbing (LKT) peserta pelatihan memiliki kemampuan dan keterampian dalam menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajara (RPP).

Hasil pelatihan menunjukkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan antara kompetensi awal  guru sebelum diadakannya pelatihan dan kompetensi akhir guru setelah diadakannya pelatihan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pengermbangan program pelatihan dalam rangka peningkatan kompetansi guru SD dalam mengimplementasikan KTSP melalui asesmen portopolio yang dirancang oleh peneliti sudah sesuai  dengan  tujuan yang diharapkan.

Daftar Pustaka

Donna H, et al. (1991). Teaching Young Children Using Themes. Michigan: Good Year Books

Fogarty, R. (1997). Problem-Based Learning and Other Curriculum Models  for the Multiple Intelligences Classroom. Australia: Hawker Brownlow Education.

Fogarty, R. (1991). How to Integrate the Curricula. Illinois: IRI/Skylight Publishing, Inc. Palatine,

Gall, M.D., Gall, J.P. & Borg, W.R. (2003). Educational Research. Boston: Pearson Education, Inc.

Gansle, A.K, Gilberston N.D, and van DerHeyden, M.A. (2006). Elementary School Teachers’ Perceptions of Curriculum-based Measures of Written Expression,  Practical Assessment, Research and Evaluation, A peer-reviewed electronic journal. 11, (5), 1-17.

Hinduan, A.A, dkk. (2001). The Development of Teaching and Learning Science Models at Primary School and Primary School Teacher Education. Bandung:  Graduate Program- Indonesian University of Education

Khalick, A.F. (2006). Preservice and Experienced Biology Teachers’ Global and Specific Subject Matter Structures : Implications for Conceptions of Pedagogical Content Knowledge. Eurasia Journal of Mathematics, Science and Technology Education, 2, (1), 1-29

Klenowski, V. (2002). Developing Portfolios For Learning and Assessment, Processess and Principles. London: Routledge Falmer

Khaeruddin H,dkk. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP, Konsep dan Implementasinya di Madrasah. Semarang: Nuansa Aksara

Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi KTSP dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru. Jakarta: PT.Rajagrafindo Persada

Meinbach, A.M, Rothlein L. and Fredericks, A.D. (1995). The Complete Guide to Thematic Units: Creating the Integrated Curriculum. Noorwood, MA: Christopher-Gordon Publishers, Inc.

Montie, J, Xiang, Z. and Schweinhart, J.L. (2006).  Preschool Experience in                  10  Countries : Cognitive and Language Performance at Age 7. Early Childhood Research Quarterly. 21, (3), 313-331

Martin Handoko. 2004. Idealisme dan Praktisi Pendidikan Pangudi Luhur. Semarang : PHPL

Mulyasa E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Nurdin Syafruddin. 2005. Guru Profesional & Implementasi Kurikulum. Jakarta: Quantum Teaching.

Tim Pustaka Yustisia.  2007. Panduan Lengkap KTSP. Yogyakarta : Pustaka Yustisia

Usman, Uzer. 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung, PT.Remaja Rosdakarya.

Undang-undang RI Nomor 20  Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tantang Guru dan Dosen

Yamin Martinis H. 2007. Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP. Jakarta : Gaung Persada Press Jakartng

Zainul, A. (2005). Alternative Assessment. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas.

 

untuk format pdf, silahkan klik PROGRAM PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SEKOLAH DASAR DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN KTSP, SILABUS DAN RPP MELALUI ASESMEN PORTOFOLIO HASIL PELATIHAN DI KECAMATAN MENUKUNG KABUPATEN MELAWI KALIMANTAN BARAT

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: