HUBUNGAN ANTARA GURU DENGAN MURID DALAM PENGAJARAN OLAHRAGA

Oleh: S u g i y a r t o, S.Pd.

Penelitian ilmiah mengenai masalah-masalah yang ada dalam bidang ilmu pendidikan olahraga hampir belum tersentuh. Orang dapat meninjau perkembangan penelitian tentang teori pengajaran, tetapi jika diberikan terlalu awal dapat terbukti lebih mengganggu daripada membantu untuk ilmu pendidikan olahraga. Di lain pihak, sebuah tinjauan yang menyeluruh tentang beberapa publikasi yang ada dalam bahasa Jerman menunjukkan bahwa penelitian terdahulu tentang masalah tersebut diciri-cirikan oleh sebuah penggunaan konsep dan teori pragmatik yang tampaknya bagus tanpa mempertimbangkan dasar-dasar pemikiran teoritis yang tidak dapat dilalui untuk pengajaran.

Siapapun mempertimbangkan tujuan dari simposium ini dengan serius, yaitu untuk menentukan kedudukan ilmu pendidikan olahraga di dalam ilmu olahraga dan khususnya di dalam pendidikan sebagai ilmu pengetahuan, tidak akan mampu mengambil posisi yang tidak mempertanyakan penerimaan konsep-konsep  yang ada. Semua itu karena, di bawah lapisan sebuah pendekatan ilmiah yang dihargai, sebuah gagasan khusus tentang pengajaran olahraga dan interpretasi tentang hubungan antara guru dengan murid disajikan dalam bentuk yang tidak kritis untuk pelatihan guru pendidikan jasmani. Untuk penentuan posisi ilmu pendidikan olahraga, penting sekali menjelaskan poin-poin tertentu, misalnya, bagaimanakah hubungan antara masalah hubungan guru-murid dengan teori pengajaran, dan pada saat yang sama, bagaimana perkembangan sebuah teori pendidikan olahraga berhubungan dengan teori ilmu pendidikan? Akibatnya, pada bab ini, sebuah upaya, pertama-tama untuk menarik perhatian kepada pentingnya akan kejelasan dalam teori pengajaran melalui sebuah analisis kritis tentang pandangan-pandangan yang saat ini dianut oleh para peneliti dalam ilmu pendidikan olahraga. Yang kedua, bab tersebut menunjukkan bahwa setiap teori pengajaran atau pendidikan menentukan terlebih dahulu posisi pengajaran dan hubungan antara guru dengan murid dengan suatu cara yang sangat husus. Pada tahap ini, orang harus bertanya dengan cara apakah definisi pengajaran merupakan sebuah konsep penelitian yang sudah dipertimbangkan sebelumnya yang terkait dengan hubungan antara guru dengan murid, dan kesimpulan apakah yang dapat disimpulkan tentang pernyataan-pernyataan mengenai dan menyinggung suatu masalah yang terkait dengan pengajaran olahraga.

PANDANGAN-PANDANGAN YANG SAAT INI DIANUT DALAM PEMBAHASAN DAN PENJELASAN TENTANG TEORI PENGAJARAN

Sebagian besar publikasi yang ada berasal dari model-model penelitian pendidikan dan psikologis, yang meneliti hubungan antara pendidik dan anak-anak dan pemuda, dan membahas relevansinya dengan pengajaran olahraga. Ini adalah upaya-upaya untuk mengemukakan sebuah program pelatihan perilaku bagi para guru olahraga. Di antara upaya-upaya yang layak mendapatkan perhatian adalah argumen yang dikemukakan oleh Grossing (1972), Schmitz (1972) dan Widmer (1974), serta percobaan pelatihan perilaku yang dilakukan oleh Jessen (1974). Semua kontribusi tersebut didasarkan kepada landasan-landasan yang dikembangkan oleh Lewin (antara lain) dan mencoba untuk menggunakan teorinya tentang tipologi pola perilaku pendidikan atau teori Tausch (antara lain) yang selanjutnya mengembangkan model dimensi analisis. Mereka membahas hubungan antara guru dengan murid dalam pengajaran olahraga, khususnya dalam kategori pengajaran, metode pengajaran, dan dimensi pendidikan, dan mereka mencoba untuk membuatnya dapat bekerja dalam sebuah konsep pelatihan.

Grossing, Schmitz, dan Widmer tidak setuju tentang manfaat konsep gaya pengajaran dalam pengajaran olahraga. Walaupun semuanya mengemukakan bahwa saat ini tidak ada cukup kepastian empiris mengenai manfaat gaya pengajaran dalam bidang olahraga, namun mereka semua (termasuk Jessen) mematuhi asumsi penelitian ini, bahwa perilaku pendidik merupakan variabel bebas yang mempengaruhi pengalaman dan perilaku murid. Melalui dasar pemikiran semacam itu, hubungan antara guru dengan murid disajikan di dalam sebuah kerangka pikir interaksi yang pasti, yaitu guru merupakan pengendali dan tokoh inti dari pengajaran, dan disajikan sebagai orang yang menjadi tempat murid bergantung dalam situasi umpan balik. Hubungan antara guru-murid berjalan, sebagai akibat dari diterimanya dasar pemikiran ini, hanya selama orang mempertanyakan contoh bagaimana sebuah pola perilaku yang diperkenalkan oleh guru menentukan perilaku yang dihasilkan oleh murid. Kategori gaya kepemimpinan mencoba untuk menunjukkan jenis hubungan seperti apa yang telah dikembangkan oleh guru, atau akan dibangun oleh guru, antara dirinya dengan muridnya. Dalam model dimensi analisis, Tausch mengakui bahwa jenis hubungan sebaiknya diukur dengan derajat kontrol arah dan derajat perkiraan yang lebih tinggi atau rendah oleh guru dalam kaitannya dengan murid.

Struktur perilaku sendiri bukan merupakan basis untuk penelitian, melainkan satu sisi dari hubungan seorang guru dengan hasilnya pada pola perilaku murid. Sebuah analisis interaksi bagian pertama (first halved) dalam hubungan dengan fungsi struktur kerja satu sisi menjadi titik fokus perhatian dalam penelitian. Hasil penelitian ini berfungsi dalam jangka panjang untuk mengungkapkan pola-pola perilaku guru yang memenuhi perilaku murid yang diharapkan, dan juga untuk melatih guru.

Pendefinisian sebelumnya tentang hubungan yang normal antara guru dengan murid dalam konsep penelitian ini, selama interaksi dalam pengajaran dibahas, adalah didasarkan kepada pemahaman tentang peran tetap (guru merupakan subyek proses pengajaran, memberikan isi dan metode, mengendalikan pengajaran dengan sanksi; murid merupakan obyek pengajaran, bereaksi terhadap guru). Struktur hubungan mengabaikan saat-saat yang merupakan bagian dari konsep penelitian kurikulum tersembunyi. Cara-cara dan sarana yang dengannya konteks kelembagaan menentukan struktur hubungan adalah jelas. Pola sosialisasi yang sangat pasti sesuai dengan struktur-struktur tersebut, dan pada saat yang sama penyusunan hubungan ditentukan oleh isi dan metode bidang subyek tersebut.

Sebelum konflik dalam teori pengajaran atau pendidikan yang menimulkan penafsiran pengajaran sebagai basis untuk konsep penelitian ini disajikan, orang harus membahas masalah interaksi khusus antara pengajaran olahraga yang ada.

Widmer (1974) dan Hildenbrandt (1973) terutama mengemukakan struktur interaksi khusus antara pengajaran pendidikan fisik, jika dibandingkan dengan pengajaran dalam subyek lainnya. Yang sudah ada untuk pembahasan adalah konsep Hildenbrandt, yang menguraikan analisis pengajaran sebagai sebuah penelitian analisis mengenai bahasa pengajaran yang digunakan dalam instruksi pengajaran. Sebagai akibat dari pengamatannya, Hildenbrandt berpikir, berdasarkan analisisnya, bahwa skema pokok interaksi berikut ini adalah valid:

Kebutuhan verbal guru (penyajian tujuan, pencapaian dalam gerakan yang diperoleh, dll) mengarah kepada aksi gerakan oleh murid, yang diamati oleh guru (kontrol visual), yang mengarah kepada pengajaran verbal tambahan dari guru (koreksi, arah gerakan yang baru).

Jika orang menerima bahwa rumus dasar yang diajukan dari contoh interaksi menunjukkan kedudukan yang saat ini dimiliki dalam pengajaran pendidikan fisik, maka ketergantungan satu pihak dari murid terhadap guru ditunjukkan dengan dua cara. Di satu sisi, murid harus mengikuti tujuan pelajaran seperti yang diberikan oleh guru, tanpa penyimpangan, sebagai pembawa harapan pendirian, sementara di lain pihak, terdapat urutan yang diberikan oleh guru, yang tidak dibahas lebih lanjut, tetapi yang menghasilkan suatu hubungan saling ketergantungan yang lebih kuat. Sebagai bukti dari penginterpretasian Hildenbrandt, ia membahas poin-poin yang ia buat tentang bahasa pengajaran yang digunakan dalam bentuk pengajaran pendidikan fisik saat ini. Arah yang mengendalikan dan berkonsentrasi terhadap organisasi dan terhadap penarikan perhatian jelas merupakan bagian utama dari semua pernyataan bahasa. Komunikasi berdasarkan pemahaman antara guru dengan murid memainkan sebuah peran yang tidak signifikan. Pernyataan bahasa tanda dapat diperhatikan dan seringkali digunakan.

Pengujian pernyataan-pernyataan di atas memperlihatkan derajat validitas yang tinggi. Dalam realita pengajaran pendidikan jasmani saat ini, dapat dicatat bahwa suatu hubungan yang hampir seperti hiasan ada antara guru dengan murid (bandingkan: penggunaan bahasa verbal dengan frekuensi organisasi dan pengendalian melalui bahasa tanda, yaitu tidak ada metakomunikasi mengenai prosedur pelajaran atau tujuan tertentu).

Akan tetapi, harus dikemukakan secara kritis bahwa Hildenbrandt, dengan evaluasi deskriptifnya tentang penggunaan bahasa dalam pengajaran olahraga, tidak membahas suatu struktur hubungan khusus, melainkan sedikit menekankan cara pengajaran yang terbaik. Dalam konsep gaya kepemimpinan, sebuah pradefinisi hubungan antara guru dengan murid dikeluarkan dari konteks lembaga normal, sehingga dalam penyelesaian Hildenbrandt orang menemukan rahasia pradefinisi berdasarkan penerimaan yang tidak dipertanyakan tentang konteks khusus subyek. Bahkan apabila kedua konsep tersebut bekerja dari titik awal yang berbeda, mereka mengikuti paradigma pengajaran yang sama dan definisi atau hubungan yang termasuk di dalamnya.

Sebuah tinjauan tentang pembahasan terdahulu menunjukkan bahwa walaupun masalah hubungan tersebut diperlakukan atas dasar suatu contoh hubungan a priori, struktur hubungan pokok ini, yang mendefinisikan contoh tersebut sebelumnya, belum menjadi titik fokus penelitian. Fakta ini merupakan hasil dari refleksi yang tidak memadai mengenai hubungan antara pemahaman tentang pengajaran, pemahaman pendidikan dasarnya dan definisi muatan penelitian pengajaran. Hanya apabila hubungan ini jelas, maka akan ada kemungkinan untuk menentukan konsep penelitian yang pasti di dalam bidang ilmu pendidikan olahraga.

KONSEP PENGAJARAN – MAKNA PENDIDIKAN/ILMIAHNYA DAN MINAT PENELITIAN YANG DIHASILKAN

Dua arah penelitian pendidikan yang kontroversial dapat dilihat. Hal ini berbeda antara satu sama lain dalam kaitannya dengan bagaimana masalah hubungan sebaiknya didekati secara ilmiah. Dalam hal ini konsep yang harus dibahas adalah basis penelitian pengajaran empiris dan juga meliputi konsep-konsep ilmu pendidikan olahraga yang sudah dibahas sebelumnya.

PENGAJARAN/PENDIDIKAN SEBAGAI MASALAH PENGARUH

Kedudukan berikut ini, oleh Brezinka (1971) dianut di dalam penelitian pendidikan. Dalam istilah pendidikan orang memahami tindakan sosial yang dengannya orang-orang mencoba untuk secara permanen memperbaiki kerangka pikir kecenderungan psikis orang lain dengan sarana psikis dan/atau sosial-budaya, pada suatu arah, atau tindakan sosial yang dengannya orang mencoba mempertahankan komponen-komponennya, yang sudah dinilai dari nilai-nilai tertentu. Pendidikan, psikoterapi, pekerjaan sosial dan propaganda semuanya saling cocok satu sama lain, bahwa ini merupakan percobaan-percobaan untuk mempengaruhi orang yang memiliki alat psikis dan sosial budaya, guna mencapai tujuan pembelajaran yang diduga bermanfaat atau diharapkan.

Pandangan ilmiah tentang praktik kelembagaan adalah suatu masalah teknologi yang memunculkan pertanyaan tentang hubungan karena minat dalam mengoptimalisasi pengaruh-pengaruh yang diharapkan. Minat penelitian di satu pihak diarahkan kepada penemuan hukum alam di dalam individu. Hal ini berarti bahwa mekanisme yang bertanggung jawab atas pengaruh guru sedang dicari. Di lain pihak, orang harus meneliti, dengan bantuan metode tertentu, seberapa jauh pengetahuan guru mengenai hukum tersebut, dan untuk mengenai perilaku terhadap orang-orang dengan cara yang optimal dalam kaitannya dengan mekanisme ini. Model teori dasar yang harus disebutkan di sini adalah konsep tentang psikologi bersyarat, serta model pembelajaran sosial, seperti mekanisme tiruan dan identifikasi.

Inti dari pendekatan ilmiah yang disajikan harus sama-sama diikuti oleh penelitian dan praktik, sebuah konsep yang dijelaskan oleh Smedslund (1973) dalam tinjauan kritisnya tentang metode analisis dan empiris dalam psikologi. Konsep penelitian terkait dengan fungsi kesadaran langsung yang dapat dipahami dan dipengaruhi tanpa pengetahuan tentang orang yang terlibat hal ini dapat menyesatkan seseorang, sehingga mempengaruhi orang-orang pada tingkat otomatis atau tidak terefleksi.

Dalam kaitannya dengan masalah ini, pendidikan dapat dipahami sebagai kekuatan manipulasi dan dapat dikembangkan dengan sebuah kontrol yang lebih halus terhadap seseorang, atau teori pendidikan komunikasi dapat dirumuskan. Konsep pendidikan ini mencoba untuk mengimbangi bahaya umum dari kemungkinan manipulasi orang-orang secara keseluruhan. Maka dari itu, konsep ini mengikuti garis pemikiran teori kritis, yang mengemukakan bahaya tentang ilmu pengetahuan sosial teknologi murni. Dengan pengetahuan yang sudah ada tentang proses sosial, maka ada kemungkinan untuk mengubah kondisi kehidupan orang-orang dalam sistem manipulasi, tanpa obyek (orang-orang) tersebut menyadari mekanisme kontrol dimana mereka terkait.

PENGAJARAN SEBAGAI MASALAH KOMUNIKASI

Dalam kaitannya dengan gagasan yang disebutkan di atas tentang sebuah tujuan pendidikan komunikasi, Mollenhauer (1972) merumuskan sebuah definisi programatik tentang pendidikan:

Pendidikan harus dipahami sebagai sebuah tindakan komunikasi, dengan tujuan untuk menetapkan sebuah struktur komunikasi yang memungkinkan diperolehnya kemampuan perilaku yang tidak bersambungan satu sama lain.

Hanya dengan mendefinisikan kategori wacana, formula pendidikan ini akan menjadi jelas. Mollenhauer memberikan definisi verbal dan isi (politis) dari istilah ini. Di satu pihak, wacana berarti “tingkat komunikasi, dalam hal ini bahasa tidak hanya mentransfer makna batas normatif, tetapi juga membiarkan terjadinya komunikasi media refleksi diri di atas komunikasi”. Pandangan lainnnya adalah pandangan Apel, menurutnya wacana merupakan sebuah meta-institusi,“ sebuah contoh kritikus dari semua norma sosial yang tidak terefleksi”.

Definisi tentang pendidikan ini memuat sebuah titik pengatur (persis seperti halnya konsep pengaruh) dalam kaitannya dengan masalah hubungan antara guru dengan murid, tetapi pada kasus ini orang seharusnya menambah persyaratan untuk membentuk pengajaran sehingga hubungan antara struktur-struktur dapat diperlakukan oleh mereka yang berpartisipasi dalam pengajaran. Akan tetapi, pada saat yang sama, aksi interpersonal komunikasi tidak dapat dilihat terpisah dari dialog yang berorientasi secara sosial, lantaran norma sosial yang ditentukan oleh masyarakat melalui lembaga sekolah juga merupakan hubungan saling keterkaitan dan masalah-masalah yang ada di dalam wacana ini. Akan tetapi, sebelum gagasan ideal mengenai pengajaran ini dapat diwujudkan, tampaknya ada kesulitan yang tidak dapat dipecahkan, yang sangat mempengaruhi masalah penelitian. Pengajaran dihadapkan dengan fakta bahwa pemahaman hermeneutika murni antara guru dengan murid tidak memungkinkan karena murid dibatasi secara mekanik dalam kaitannya dengan penerimaan yang disosialisasikan. Maka dari itu, manipulasi tampaknya tidak dapat dihindari, bahkan dalam kaitannya dengan niat terbaik dari guru dalam hal dan situasi tertentu. Dalam konteks ini, masalah penelitian dua sisi menyajikan dirinya sendiri: di satu pihak, orang dapat bertanya kapan dan dalam situasi seperti apa anak, yaitu pemuda, mampu mencapai refleksi dalam kaitannya dengan struktur hubungan tersebut. Di lain pihak, orang seharusnya meneliti bagaimana langkah-langkah dari suatu pelajaran dapat dicapai sebelum kemampuan tersebut dicapai, sehingga proses mekanik sosial tidak menguat atau tidak perlu berlarut-larut. Dalam menjawab poin pertama dari pertanyaan ini, penelitian berikut yang ada tentang klasifikasi kesadaran moral dapat membantu. Pemeriksaan ini diawali dengan kemungkikan jenis-jenis orientasi sosial dalam perkembangan anak dan pemuda. Akan tetapi, pada bagian kedua dari pertanyaan ini, pemeriksaan tidak dapat diawali dengan genesis individu, kaidah-kaidah harus disusun kembali, yang diikuti oleh komunikasi pedagogis (pendidikan) dalam konteks kelembagaan. Dalam penelitian yang terkait dengan pandangan semacam itu, orang dapat mengandalkan teori nilai kepribadian kritis, interaksionalisme simbolis atau mengenai teori perkembangan bahasa dan pragmatisme bahasa.

Penelitian-penelitian yang membantu mencegah batasan konteks kelembagaan secara lebih lengkap dan terbuka yang di dalamnya orang dapat bekerja juga akan menyajikan kepada kriteria analisis guru yang membuat struktur hubungan yang sebelumnya tidak jelas menjadi jelas baginya. Hal ini selanjutnya menempatkannya pada posisi yang mampu memperkenalkan dan menggunakan proses komunikasi dalam pengajaran dalam kaitannya dengan murid-murid yang sebelumnya tidak mampu memberikan respon.

Komunikatif berarti bahwa guru tidak menganjurkan kaidah-kaidah sosial yang terjadi dalam pelajaran, melainkan bahwa pembuatan kaidah-kaidah tersebut dibahas dengan murid tahap demi tahap, dan anak-anak yang dilibatkan diberi tanggung jawab yang lebih sungguh-sungguh atas kaidah-kaidah tersebut. Maka dari itu, penelitian hubungan, berarti sebagai tes hubungan antara murid dengan guru dalam kaitannya dengan kecenderungan manipulasi represif, bukan hanya dalam jenis kaidah yang ditetapkan, melainkan juga pada cara-cara yang memberlakukan peraturan (dikalangan murid dan oleh guru).

Dengan sebuah pandangan tentang kemampuan diskusi, pertanyaan didaktis berikut ini ditanyakan, “Dengan cara apakah murid dapat secara aktif berperan dalam sebuah tes?” Agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dan yang terkait dengan poin khusus, murid seharusnya belajar melalui pengalamannya sendiri dalam pengajaran “untuk mentransfer motivasi tidak sadar, dan perilaku yang dapat dijelaskan dan dimanipulasi ke dalam perilaku kesadaran”.

KONSEKUENSI UNTUK SEBUAH KONSEP YANG TERKAIT DENGAN PENGAJARAN OLAHRAGA

Tidak dapat dibayangkan bahwa kedudukan teori pendidikan yang disajikan dalam bab ini dan strategi penelitian yang dihasilkan dapat dipadukan dengan suatu cara. Pandangan kontroversial yang dianut mengenai fungsi sosial pengajaran, dengan kata lain, konsep-konsep yang disentuh sebelumnya untuk mengungkapkan dengan cara apa interaksi sosial murid dapat dipadukan ke dalam masyarakat, memerlukan keputusan yang jauh lebih mendasar tentang salah satu pendekatan ini atau pendekatan lainya. Untuk mempersiapkan sebuah keputusan dalam ilmu pendidikan olahraga, pembahasan tidak hanya dapat menggunakan pandangan yang terpisah tentang hubungan antara guru dengan murid. Hal in juga harus dibahas dengan tujuan, isi, dan masalah pengorganisasian pengajaran yang dipertimbangkan.

Pada bagan di bawah ini sebuah upaya dilakukan untuk menyajikan sebuah poin akhir pembahasan dan pemikiran mengenai masalah keputusan.

BENTUK KONSEP PENGARUH KONSEP KOMUNIKASI
Konsep/tujuan pengajaran olahraga Prioritas kesempurnaan gerak (perbaikan kondisi dan pembelajaran pola gerakan dalam olahraga); adaptasi olahraga ke dalam kegiatan di luar sekolah Tindakan komunikasi dalam pengajaran olahraga; partisipasi reflektif dalam olahraga (kemampuan untuk menilai status gerakan seseorang dan untuk melihat tingkat minat seseorang terhadap berbagai kegiatan olahraga yang ditawarkan); pembelajaran kemampuan subyek dan politik untuk memungkinkan seseorang mengambil posisi rasional dalam proses olahraga-politik.
Pengorganisasian pengajaran.

a) Aspek luar

Pengajaran dalam olahraga, yaitu, penyusunan pelatihan, sistem guru ahli. Kemungkinan pengajaran metakomunikasi terhadap perilaku tindakan dalam pengajaran olahraga, yaitu struktur hubungan dalam perencanaan olahraga (termasuk lebih dari satu subyek).
b) Aspek dalam Guru merencanakan pengajaran, yaitu menyusun dan mengontrol proses pelatihan; murid berpartisipasi dalam proses pelatihan yang jelas. Guru dan murid bekerja sama dalam perencanan pengajaran; meningkatkan pengorganiasian diri di kalangan murid-murid.
Masalah penelitian guru-murid-murid Perbaikan iklim sosial; pelatihan perilaku guru pendidikan jasmani. Analisis interaksi tentang konteks kelembagan; kaidah komunikasi seperti apa yang ada antara guru dengan murid dan rekonstruksi konteks kaidah disiplin ilmu olahraga untuk menjelaskan jenis hubungan yang diartikan oleh kaidah-kaidah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: