PERAN SERTA DAN PROFESIONALISME GURU DALAM PENDIDIKAN

Oleh: Mariana, S.E.

Pendidikan mempunyai dua proses utama, yaitu mengajar dan diajar.  Mengajar ditingkat pendidikan formal dilakukan oleh guru. Proses belajar mengajar atau dikenal dengan istilah kegiatan pengajaran merupakan inti dari proses pendidikan, atau dengan kata lain pengajaran merupakan bagian dari pendidikan. Dalam proses belajar mengajar ada tiga peranan guru yaitu guru sebagai pengajar berperan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, guru sebagai pembimbing diharapkan dapat memberikan bantuan kepada siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan guru sebagai admninistrator kelas berperan dalam pengelolaan proses belajar mengajar kelas. Dapat disimpulkan bahwa dalam proses pengajaran guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan, guru memegang peranan penting dalam menciptakan situasi pengajaran sehingga proses belajar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Ada dua macam proses untuk  menggambarkan pentingnya pengembangan sumber daya guru. Pertama, jabatan guru diumpamakan sebagai air. Sumber air itu harus terus bertambah, agar sungai itu dapat mengalirkan air terus-menerus sehingga tidak menjadi kering. Jika seorang guru tidak pernah membaca informasi yang baru, tidak menambah ilmu pengetahuan tentang apa yang akan diajarkan, seorang guru tidak akan mungkin memberi ilmu dan pengetahuan dengan cara yang lebih baik kepada peserta didik. Kedua, jabatan guru diumpamakan dengan sebatang pohon berbuah. Pohon itu tidak akan berbuah lebat, bila akar induk pohon tidak menyerap zat-zat makanan yang berguna bagi pertumbuhan pohon itu. Begitu juga dengan jabatan guru yang terus tumbuh dan berkembang, setiap guru perlu menyadari bahwa pertumbuhan dan perkembangan profesi merupakan suatu keharusan untuk menghasilkan pendidikan berkualitas.

Dalam artikel ini diuraikan beberapa hal pokok, yaitu sebagai berikut:

(1)      Guru Sebagai Pendidik

Guru sebagai pendidik adalah seorang yang berjasa besar terhadap masyarakat dan bangsa. Tinngi rendahnya kebudayaan masyarakat, maju atau mundurnya tingkat kebudayaan suatu masyarakat dan negara sebagian besar bergantung pada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru. Pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan yang mulia, baik ditinjau dari sudut masyarakat dan negara maupun dari keagamaan. Tugas seorang guru tidak hanya mendidik. Oleh karena itu, untuk melaksanakan tugas sebagai guru tidak sembarang orang dapat menjalankannya. Sebagai guru yang baik harus memenuhi syarat, yang ada dalam Undang-Undang nomor 12 tahun 1954 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di sekolah untuk seluruh Indonesia, yaitu:        (1) Berijazah, (2) Sehat jasmani dan rohani, (3) Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berkelakuan baik, (4) Bertanggung jawab, dan (5) Berjiwa nasional.

(2)      Hakikat Sebagai Guru

Pandangan tradisional mengatakan guru sebagai penyalur pengetahuan dan sumber dari segala ilmu pengetahuan. Pandangan itu haruslah berubah, yaitu guru harus lebih berperan sebagai: (1) fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar, dalam hal ini guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan kepada siswa namun sebaliknya guru membantu siswa dalam membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar sehingga selain memperoleh ilmu pengetahuan, siswa juga dapat berpikir kreatif. (2) Guru merupakan penasihat siswa, yaitu guru harus mampu memahami kebutuhan belajar siswa sehingga dapat memberikan pelayanan belajar yang tepat kepada siswa dan dapat membantu kesulitan belajar siswa. (3) Pengamat kegiatan siswa, yaitu guru selalu mengontrol dan mengawasi sikap dan tingkah laku siswa terutama pada saat berlangsungnya proses belajar di kelas maupun di sekolah, (4) Mengevaluasi kemajuan belajar siswa, tugas guru menilai keberhasilan proses belajar siswa dan pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan oleh guru.

(3)      Komponen-Komponen Pengajaran

Setiap guru memiliki pola mengajar sendiri-sendiri. Pola mengajar ini tercermin dalam tingkah laku pada waktu melaksanakan pengajaran. Dianne Lapp, dkk (1975 : 1) menanamkan pola umum tingkah laku mengajar yang dimiliki guru dengan istilah “Gaya Mengajar atau Teaching Style“. Gaya mengajar ini tercermin dalam pelaksanan pengajaran guru bersangkutan yang dipengaruhi oleh pandangannya sendiri tentang mengajar, konsep–konsep psikologi yang digunakan serta kurikulum yang dilaksanakan. Peran guru dalm proses belajar mengajar yang efektif memiliki berbagai bentuk sesuai dengan pengaruhnya terhadap sikap, struktur motivasi dan katerampilan kognitif anak/siswa ( Saputro, 1993 : 6).

  1. Dalam sikap, guru membantu siswa untuk berpikir kreatif dalam proses balajar mengajar, membantu siswa berpikir kritis dalam menghadapi masalah-masalah terrmasuk dalam masalah belajar dan juga membantu siswa untuk memperoleh pengalaman.
  2. Dalam hal motivasi, tugas guru adalah membangkitkan atau mendorong keinginan dan memelihara semangat siswa untuk  secara kontinyu melaksanakan aktivitas belajar.
  3. Sedangkan konnitif, tugas guru adalah melengkapi kemampuan untuk belajar dalam pengetahuan dan keterampilan, yang dapat dikembangkan melalui pembinaan dalam mengenal dan  menggunakan metode–metode ilmiah untuk menemukan informasi/pengetahuan dan ketarampilan serta mengenal sumber-sumber belajar.

(4)      Profesionalisme Guru

Profesionelime menjadi tuntutan dalam setiap pekerjaan. Guru yang professional adalah mereka yang memiliki kemampuan profesional dengan berbagai kapasitasnya sebagai pendidik. Studi yang dilakukan oleh Ace Suryani menunjukkan bahwa guru yang bermutu dapat diukur dengan lima indikator, yaitu: Pertama, kemampuan profesional, sebagaimana terukur dari ijazah, jenjang pendidikan, jabatan dan golongan serta pelatihan. Kedua, upaya professional, sebagaimana terukur dari kegiatan mengajar, pengabdian dan penelitian. Ketiga, waktu yang dicurahkan untuk kegiatan professional, sebagaimana terukur dari masa jabatan, pengalaman mengajar serta lainnya. Keempat, kesesuaian antara keahlian dan pekerjaannya, sebagaimana terukur dari mata pelajaran yang diampu apakah telah sesuai spesialisisasinya atau tidak, dan kelima, tingkat kesejahteraan, sebagaimana terukur dari tingkat upah, honor dan penghasilan rutinnya.

Jurnal terkemuka manajemen pendidikan, Educational Leadership edisi Maret 1983, untuk menjadi profesional, seorang guru dituntut memiliki lima hal, yaitu:

  1. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya, berarti komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswa.
  2. Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkan serta cara mengajarkannya pada siswa.
  3. Guru bertanggungjawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan melalui perilaku siswa sampai tes hasil belajar.
  4. Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamnya.
  5. Guru merupakan bagian dari masyarakat, belajar dalam lingkungan profesinya, misalnya PGRI dan organisasi profesi lainnya.

(5)      Usaha Peningkatan Profesionalisme Guru

Pertama, dari sisi lingkungan tempat guru mengajar, setiap guru mengikuti pelatihan dan penataran, diharapkan dari dirinya akan ada peningkatan dalam hal kemampuan dan kemauan. Serta mengembangkan wawasan keilmuannya dengan memiliki pembekalan materi. Kedua, pola pengelolaan pendidikan yang selama ini sangat sempit telah memposisikan para guru hanya sekedar operator pendidikan. Jadi guru cenderung mengajar hanya memindahkan pengetahuan saja. Pola pengelolaan pendidikan ini perlu diubah menjadi pola yang luas. Pengembangan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif perlu dilaksanakan. Mutu pendidikan tidak hanya mengukur aspek pengetahuan tetapi juga keahlian, perilaku budi pekerti serta keterampilan. Perubahan perilaku ini dapat dilakukan melalui pelatihan dan penataran.

Secara rinci dalam melaksanakan proses belajar mengajar, guru dituntut untuk memiliki berbagai keterampilan, yakni cara menyelenggarakan pengajaran yang dapat mengantarkan siswa  mencapai tujuan yang direncanakan. Adapun syarat-syarat yang perlu dimilki oleh seorang guru, sehingga dapat melaksanakan tugasnya dengan berhasil yaitu meliputi:

1. Penguasaan materi pelajaran

    Materi pelajaran merupakan isi pengajaran yang dibawakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Karena itu, dalam mengajar, seorang guru dituntut untuk menguasai materi pelajaran, dan juga diperlukan penguasaan yang lebih luas terhadap materi itu sendiri sehingga dapat menuntun hasil belajar yang lebih baik.

    2. Kemampuan menerapkan prinsip-prisip psikologi

      Prinsip-prinsip psikologi yang biasanya merupakan hasil penelitian para ahli, menjelaskan kepada kita tentang tingkah laku manusia dalam berbagai konteks. Mengajar pada intinya merupakan proses mengubah tingkah laku. Agar memperoleh hasil yang diinginkan secara baik, perlu menerapkan prinsip-prinsip, terutama berkaitan dengan belajar.

      3. Kemampuan menyelenggarakan proses balajar mengajar

        Di lembaga-lembaga pendidikan yang mendidik calon guru, menyiapkan para calon guru dengan memberikan bekal-bekal teoritis dan pengalaman praktik kependidikan. Bekal teoritis meliputi berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dapat menunjang pemahaman mengenai teori dan konsep belajar mengajar. Sedangkan bekal praktis diperoleh melalui kegiatan pengamatan terhadap guru dalam mengajar serta melakukan praktik.

        4. Kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi baru

          Secara formal maupun professional  tugas guru seringkali menghadapi berbagai permasalahan yang timbul akibat adanya berbagai perubahan yang terjadi dilingkungan tugasnya, seperti perubahan kurikulum, pembaharuan dalam sistem pengajaran dan sebagainya, baik yang datang dari dalam sekolah, maupun dari pemerintah. Maka diperlukan kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai pembaharuan yang pada dasarnya muncul seiring dengan adanya sikap positif untuk mau meningkatkan diri dalam karir dan profesionalnya. Sikap ini dapat muncul bila guru memiliki kecakapan yang memadai mengenai hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar, sehingga perubahan yang terjadi di lingkungan tidak terlalu mengejutkan, bahkan guru yang bersangkutan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan atau situasi yang dihadapi.

          DAFTAR PUSTAKA

          Bafadal, Ibrahim. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar. Jakarta: Sinar Grafika Offset

          Lapp, Dianne  dkk. 1975. Teaching and Learning: Philosophical, Psycological and Curricular Application. New York: Mac Millan Publishing co.Inc.

          Saputro, Suprihadi. 1993. Dasardasar Metodologi Pengajaran Umum. Malang: Penerbit IKIP MALANG

          Umar, Syahwani. 1998. ”Teori Belajar dan Pembelajaran” Jurnal Udukatif. Pontianak: FKIP UNTAN PONTIANAK

          Sukardi, Joko Sri. 2008. Upaya Memperbaiki Kualitas Mengajar Yang Mendidik Guru IPA Dengan Memaksimalkan Terpenuhnya Kompetensi Kepribadian Dan Profesional Guru. http://www.docstoc.com/. Akses Desember 2009

          2 Tanggapan

          1. thanksssssssssssss bu…………. atas artikelnya
            lumayan dapat data

          2. thx ya buk…

          Tinggalkan Balasan

          Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

          Logo WordPress.com

          You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

          Gambar Twitter

          You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

          Foto Facebook

          You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

          Foto Google+

          You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

          Connecting to %s

          %d blogger menyukai ini: