RAHASIA MENGASAH TALENTA DALAM PERKEMBANGAN INTELEKTUAL ANAK

Oleh: Mardiana, S.Pd., M.Pd.

Orang yang cerdas sering kali menguasai dunia. Hal ini disebabkan oleh pentingnya kecerdasan akal, bahkan lebih penting dan lebih berharga daripada intan dan batu permata. Dengan kata lain, orang bijak tidak lagi memerlukan dan mementingkan kekayaan materi. Meskipun semua orang mempunyai otak, hanya sebagian kecil yang bisa menggunakannya dengan baik sehingga bisa meraih kesuksesan dalam hidupnya. Jika kita benar-benar menjaga perkembangan mental anak dari sejak bayi, mereka akan tumbuh menjadi anak yang pintar dan bijaksana.

Susunan  Otak Manusia

Menurut para ahli, otak adalah organ paling rumit di antara organ-organ manusia lainnya. Ketika kita lahir, dalam kepala kita sudah ada seratus juta sel otak. Dari sekian banyak jumlahnya, hanya sedikit sekali yang dapat digunakan secara optimal oleh manusia sepanjang hidupnya. Sudah lama otak menjadi misteri yang belum tepecahkan oleh para ilmuwan. Tapi baru beberapa tahun ini, misteri tersebut sedikit demi sedikit sudah mulai tampak. Misalnya, para ilmuwan mulai tahu bahwa kecerdasan dan otak merupakan dua hal yang berbeda. Misalnya saja dalam analogi komputer, kecerdasan merupakan perangkat lunaknya, sementara otak adalah perangkat kerasnya, dan keduanya bekerja saling mendukung. Tidak diragukan lagi, akal kita adalah kotak Pandora yang dapat memberikan keberuntungan kepada kita.

Otak, yang bisa disimpan dengan rapi di atas dua telapak tangan kita, adalah organ yang merupakan “jati diri” kita. Otak menurut penjelasan Robert Ornstein dan Richard F. Thompson dalam The Amazing Brain, ukurannya hanya sebesar buah anggur dan beratnya kira-kira sama dengan berat sebutir kol. Inilah satu-satunya organ yang tak bisa kita cangkok.

Data Otak Manusia

  • Kira-kira beratnya 1,5 kg
  • 78% air, 10% lemak, 8% protein
  • Kurang dari 2,5% berat tubuh
  • Menggunakan 20% energi tubuh
  • 100 miliar neuron
  • 1 triliun sel glial
  • 1000 triliun titik sambunga  sinaptik
  • 280 kuintiliun memori

Otak mengatur seluruh fungsi tubuh, mengendalikan kebanyakan perilaku dasar kita-makan, tidur- dan menghangatkan tubuh. Otak bertanggung jawab atas semua kegiatan kita yang sangat canggih menciptakan peradaban, musik, seni, ilmu, dan bahasa. Harapan-harapan kita, pikiran kita, emosi kita, dan kepribadian kita semua dionggokkan di satu tempat di dalamnya. Setelah ribuan ilmuwan mempelajarinya selama berabad-abad, hanya ada satu kata untuk menggambarkannya, yaitu “menakjubkan”.

Tingkat Kecerdasan

Kemampuan dan cara seorang anak mengerjakan dan mempelajari sesuatu mengindikasikan tingkat kecerdasannya. Dapatkah kompetensi ini diukur atau dihitung? Perhitungan seperti  ini memang sangat krusial, karena harus mencakup kemampuan imajinasi anak, kemampuan perencanaan, dan pemahaman logika. Tes-tes tersebut, untuk anak berusia lima tahun ke atas, bentuknya bervariasi menurut kelasnya. Ini adalah proses pemindaian psikologi. Tes kecerdasan bisa juga digunakan untuk meneliti keadaan mental seseorang. Dalam penelitian semacam ini, hanya bahasa verbal saja yang digunakan, sementara bahasa non-verbal tidak.

Pengukuran kecerdasan sudah ada dalam masyarakat dengan bermacam-macam bentuk. Literatur kuno kita penuh dengan teka-teki dan alegori agar bisa mempertanyakan dan menguji masalah yang masih belum jelas. Tes kecerdasan ilmiah pertama kali dilakukan di Eropa. Dalam tes ini, psikologi Jerman, Wilhelm  Max Wundt, memberi andil yang sangat besar. Pada tahun 1879, dia mendirikan sebuah laboratorium sebagai pelopor penelitian mengenai persepsi manusia, analisis fungsi tubuh, dan tes kecerdasan. Pada waktu itu, ada kesimpulan umum yang luas, yaitu semakin bagus persepsi seseorang, akan semakin bijaksana pula dirinya.

Sekitar tahun 1901, seorang psikolog Jerman lain yang bernama Wechsler, mengemukakan teori yang lain. Dia berkata bahwa tidaklah tepat untuk menilai otak manusia dilaboratorium dengan bantuan alat-alat. Menurutnya, pekerjaan ini akan lebih berhasil jika anak-anak diuji di dalam kelas mereka. Dugaannya ini berdasarkan observasi yang menunjukkan bahwa sebagian besar murid yang mempunyai prestasi bagus di sekolah, akan berprestasi juga dalam kehidupan masa depan mereka.

Mengukur Isi Otak

Sekitar 1880, peneliti pemberani bernama Binet melakukan percobaan untuk mengetahui kekuatan otak, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Lalu, memasuki abad ke-20, sebuah perusahaan negara di Prancis menghadapi satu masalah yang tidak diduga sebelumnya. Banyak sekali murid di sekolah-sekolah yang dikelola perusahaan ini yang lamban dalam berpikir. Berbagai pertanyaan yang diajukan untuk satu kelompok umur tertentu sama sekali berbeda dengan pertanyaan untuk kelompok umur yang lain. Jadi, apa yang ditanyakan anak umur delapan tahun tidak akan bisa dijawab dengan anak umur tujuh tahun. Begitu juga anak umur empat tahun tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kakak kelasnya.

Penilainnya yaitu setiap anak yang bisa menjawab pertanyaan dari anak lain dalam kelompok umur yang sama dinilai normal. Sedangkan anak yang tidak bisa menjawab dikategorikan di bawah normal. Kategori ketiga adalah untuk anak yang dapat menjawab pertanyaan, bahkan pertanyaan yang diajukan oleh kelompok-kelompok umur di atasnya. Mereka dinilai mempunyai kecerdasan di atas rata-rata.

Dasar Tes Kecerdasan Binet-Simon (Seperangkat Pertanyaan untuk Tiap Kelompok Umur yang Berbeda)

1.3 tahun :

  1. Di mana hidungmu…mata kamu…dan seterusnya
  2. Apa ini? (Bertanya setelah memperlihatkan sebuah pisau, uang kertas, uang logam, kunci, dan sebagainya).
  3. Apa yang kamu lihat digambar ini? (Pegang gambar di depan anak)
  4. Kamu anak laki-laki atau perempuan?
  5. Siapa namamu?
  6. Ulangi apa yang saya ucapkan ;
    1. Aku mempunyai seekor anjing kecil
    2. Anjing selalu mengejar kucing
    3. Di musim panas, matahari sangat terik.

2.4   tahun:

  1. Gambarlah dua garis sejajar. Satu garis panjangnya 5 inchi, dan yang satu lagi 6 inchi. Antara dua garis itu, beri jarak 3 inchi. Lalu, tanyakan kepada anak, “Manakah garis yang yang lebih panjang?”
  2. Gambar sebuah persegi panjang, persegi, dan segi tiga. Lalu, tanyakan apakah ketiganya sama atau berbeda.
  3. Letakkan beberapa uang logam di meja. Suruhlah anak untuk menghitungnya.
  4. Gambarlah sebuah persegi. Suruh anak untuk menggambar pula sebanyak 3 buah, 2 di antaranya harus sama ukurannya.
  5. Sebutkan angka-angka 4, 7, 3, 9, dan seterusnya. Suruh anak untuk mengulanginya setelah Anda selesai.

3. 5 tahun:

  1. Diantara 2 tas ini, manakah yang lebih berat? (Perlihatkan 2 buah tas yang sama bentuknya, tapi beratnya berbeda).
  2. Perlihatkan warna merah, hijau, biru, kuning. Apakah anak bisa membedakannya?
  3. Perlihatkan gambar seorang anak perempuan dan seorang wanita dewasa. Lalu, tanyakan mana yang lebih tua.
  4. Perlihatkan gambar seorang perempuan dengan wajah biasa dan seorang lagi dengan wajah yang menarik. Mana yang lebih menarik perhatian anak?
  5. Tanyakan kepada anak kegunaan kursi, kuda, dan semacamnya.
  6. Apakah anak tahu artinya sabar?

4. 6 tahun:

  1. Tanyakan: Mana tangan kananmu…telinga kirimu….?
  2. Gambarlah 3 wajah perempuan. Salah satu gambar tanpa hidung. Satu gambar lagi tanpa mata. Sisanya tanpa mulut. Tanyakan kepada anak bagian apa yang hilang dari wajah-wajah tersebut.
  3. Sebarkan segenggam uang logam di atas meja. Suruh anak untuk menghitung jumlah semuanya.
  4. Tanyakan kepada anak, apa yang akan kamu lakukan ketika:
    1. Kamu akan berangkat sekolah, kemudian hujan turun.
    2. Ada yang terbakar di rumahmu.
    3. Kamu ingin pergi kesuatu tempat, tapi ketinggalan bis.
    4. Letakkan uang logam dan uang kertas di atas meja dengan nominal yang berbeda di atas kertas. Apakah anak bisa menyebutkannya dengan tepat?
    5. Suruhlah anak untuk mengulangi kalimat ini:
      1. Hari ini sangat indah.
      2. Bunty menggunakan hari libur dengan sebaik-baiknya.
      3. Dia pergi ke sungai setiap hari untuk mandi.
      4. Kami akan pergi jalan-jalan.
      5. Tolong ambilkan topi saya.

Binet-Simon mengadakan percobaan pada ribuan anak dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas. Mereka sangat berhati-hati agar bisa membuat pembedaan yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan mereka. Dengan penelitian ini, akan diketahui kemampuan anak dalam bidang-bidang yang berbeda, tes ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kedewasaan mental anak,  dan tes ini tidak membutuhkan banyak peralatan. Selembar kertas dan sebuah pensil sudah cukup untuk itu.

DAFTAR PUSTAKA

Rakhmat, Jalaludin. 2006. Belajar Cerdas: Belajar Berbasis Otak. Bandung: Mizan Learning Center (MLC)

Arya, P.K. 2008. Rahasia Mengasah Talenta Anak. Jogjakarta: Penerbit Think

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: