Kebahagiaan Sebagai Tujuan Hidup Manusia

Oleh :

Yakobus Ason, S.Pd, M.Pd

Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti menghendaki agar  hidupnya bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Kebahagiaan menjadi tujuan hidup manusia.. Orang mencari kebahagiaan itu dengan berbagai cara. Di manakah kebahagiaan itu berada ? Ada orang yang menganggap bahwa harta,  kekayaan , uang, dan jabatan adalah sumber kebahagiaan. Dengan memiliki semuanya itu orang merasa bahagia karena bisa menikmati hidup yang enak. Oleh karena itu berbagai macam cara dilakukan orang  untuk meraih sesuatu yang dianggapnya sebagai sumber kebahagiaan tersebut. Untuk dapat meraih  sumber kabahagiaan dimaksud orang menggunakan cara-cara tertentu, baik yang  terpuji maupun  dengan cara yang tidak terpuji.. Baginya bagaimanapun caranya yang penting harus bisa meraih sesuatu tersebut yang menjadi sumber kebahagiaan bagi dirinya dan keluarga.

Sementara itu ada juga orang yang memandang bahwa kebahagiaan itu bukan terletak pada harta, benda, kekayaan, uang maupun jabatan, melainkan pada sikap seseorang  dalam memandang sesuatu itu sebagai anugerah yang perlu disyukuri sehingga membuat dirinya bahagia. Orang yang demikian itu menyadari bahwa kebahagiaan itu terletak dalam hati nuraninya., yakni hati yang bisa mensyukuri segalanya yang dia terima  entah yang baik maupun buruk sekalipun.

Maka, meskipun setiap orang menghendaki agar hidupnya bahagia, namun dalam kenyataannya terdapat begitu banyak permasalahan hidup yang dapat menimbulkan ketegangan, kecemasan, ketakutan, frustrasi, stress, dan lain-lain, sehingga akhirnya orang menjadi kurang nyaman, kurang damai, kurang tenteram dan kurang bahagia. Semuanya itu ternyata sumbernya adalah  terletak pada hati kita yang mampu menyikapi semua persoalan hidup itu sebagai suatu peluang maupun  tantanga untuk maju dan berkembang., bukan sebagai penghambat .

Kunci kebahagiaan hidup tidak terletak pada tida adanya persoalan dan kesulitan yang dialami dalam hidup ini, melainkan pada sikap kota dalam menghadapi persoalan hidup ini. Sebagai contoh kongrit adalah sikap orang dalam menghadapi kemacetan lalu lintas di jalan raya. Ada orang yang menjadi marah-marah, tegang, dan bahkan memaki-maki, karena lalu lintas yang macet, tetapi ada pula orang yang dengan tanang memanfaatkan waktu macet untuk mendengarkan musik, bercanda dengan teman, atau membaca buku. Beberapa contoh lain beberapa orang yang sama-sama kehilangan sepeda motor dapat berbeda reaksinya. Orang satunya bisa menanggi sehabis-habisnya sampai beberapa hari, sementara orang yang l;ain dengan tanang mengatakan “ya, sudahlah, lain kali lebih berhati-hati.”

Jadi yang menentukan ketenteraman hidup manusia adalah sikap orang itu dalam menghadapi kesulitan, bukannya permasalahannya itu sendiri.  Ada orang yang tetap tenang, meskipun banyak menghadapimasalah kehidupan, sebaliknya ada orang yang setiap hari tegang meskipun hanya menghadapi persoalan-persoalan kecil seja.

Sikap orang dalam menghadapi kesulitan hidup sangat ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang termasuk dalam faktor eksternal antara lain besar-kecilnya masalah, lama-tidaknya masalah dapat diselesaikan, kerugian yang diakibatkan oleh  masalah  tersebut, dan sebagainya dukungan yang diperoleh dari keluarga maupun teman-teman. Semakin besar, semakin lama, dan semakin banyak kerugian yang diderita, terlebih semakin tidak ada orang yang membantu dalam  menghadapi  kesulitan hidup tersebut, akan semakin berat orang yang bersangkutan.

Sedangkan yang termasuk faktor internal antara lain adalah pengalaman masa lalu, kecerdasan emosional, kecerdasan intelektua dan tingkat keimanan seseorang. Keempat faktor di atas akan menentukan “sikap hidup” seseorang dalam menghadapi kesulitan dalam hidup seharihari. Sikap hidup inilah yang akhirnya menentukan tingkat kedamaian, ketenteraman, dan kebahagiaan hidup manusia. Meski ada banyak tantangan dan kesulitan dalam hidup ini, kita tidak perlu menjadi sangat tegang dan cemas, semakin kita akan gelisah dan akhirnya justru membuat  masalah tambah ruwet dan rumit.

Pengalaman Masa Lalu

Orang yang banyak mengalami kegagalan dan kekecewaan di masa lalu pada umumnya akan menjadi orang yang percaya diri dan mudah patah semangat dalam menghadapi kesulitan. Di samping itu konsep dirinya menjadi serba negatif, menganggap diri orang yang gagal, bodoh, sial, dan sebagainya. Dalam hal ini konsep diri menjadi sangat negatif dan hal inilah  yang semakin membuat orang tidak berkembang.

Jika kita mau berkembang, kita harus mengubah konsep diri kita menjadi lebih positif. Kita  tidak mungkin berkembang subur jika konsep diri kita serba negatif. Oleh karena itu lebih baik menonjolkan segi positif dalam diri kita dari pada hal-hal yang negatif. Karena setiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kekuatan yang mesti kita tonjolkan.

Kecerdasaan Emosional

Orang yang cerdas secara emosional memiliki  lima ciri yaitu : Pertama, mampu mengenali dan memahami emosi-emosi yang bergejolak di dalam dirinya, Kedua, mampu mengenali dan memahami emosi-emosi yang bergejolak di dalam diri orang lain, Ketiga, mampu memotivasi diri agar selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari. Keempat, mampu mengendalikan emosi-emosi yang bergejolak di dalam dirinya., dan Kelima, mampu memelihara hubungan-hubungan dengan orang lain.

Emosi memegang peranan penting yang amat domonan yang menentukan sikap orang terhadap lingkungannya. Rasa tentram dan damai, bahagia dan cemas, amat dipengaruhi oleh kondisi emosi kita. Emosi yang kurang terkendali akan membuat orang cepat bereaksi tanpa pikir panjang. Hal inilah yang akhirnya membuat orang tidak tentram hidupnya. Hidup kita akan menjadi lebih tenteram dan damai jika kita  cerdassecara emosional, terutama dalam hal kemampuan mengendalikan diri.  Untuk  mengendalikan diri perlu latihan dalam berbagai hal, misalnya latihan mengendalikan rasa marah, rasa cemas, rasa malu dan sebaginya. Ini menjadi keterampulan hidup (life skills) yang perlu  dipelajari secara serius oleh mereka yang mau hidup bahagia.

Kecerdasan Intelektual

Yang dimaksud dengan kecerdasan intelektual adalah kemampuan orang untuk berpikir rasional dan masuk akal. Semakin kita mampu berpikir rasional, semakin kita mampu mengendalikan emosi-emosi kita yang sedang bergejolak. Sebaliknya jika kita kurang mampu berpikir secara rasional, akhirnya emosi kita yang mengendalikan kita. Orang yang bertindak hanya berdasarkan emosi belaka, tindakannya sering membabi buta, tanpa perhitungan. Akibatnya banyak pihak yang dirugikan. Lebih parah lagi, kita menyesali  perbuatan setelah  banyak pihak yang menjadi korban kebrutalan kita.

Rasio dan emosi sangat erat hubungannya. Kita bisa mengendalikan emosi dengan meningkatkan rasionalisasi kita. Sebaliknya emosi yang tidak terkendali bisa membutakan rasio kita.

Tingkat Keimanan

Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang ia akan semakin berhati-hati dalam bertindak, karena ia akan selalu mempertimbangkan aspek moral dan religiusitas dari tindakannya. Sebaliknya orang yang rendah aspek keimanannya , ia tidak akan memperdulikan pertimbangan-pertimbangan moral dan agama dalam bertindak. Aspek keimanan ini sering kali disebut sebagai kecerdasaan spiritual. Dengan kata lain , jika kita ingin hidup bahagia kita harus meningkatkan kecerdasan  emosional, kecerdasan intelektual serta kecerdasan spiritual.

Penulis adalah Dosen STKIP Melawi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: