Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru STKIP Melawi 2011

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) MELAWI

Ijin Penyelenggaraan : Dirjen DIKTI Nomor : 1391/D/T/2009.

Menerima Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2011/2012 untuk program studi :

1. S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD).

2. S1 PENDIDIKAN JASMANI, KESEHATAN DAN REKREASI.

Waktu & Tempat Pendaftaran SPMB:

  1. Waktu Pendaftaran : Dari tanggal 24 Mei 2011 – 18 Juni 2011. Jam Kerja STKIP Melawi : Senin-Jumat -08-00 sd 16-00,                   Istirahat: 11.30 sd 13.30.
  2. Tempat Pendaftaran: Kampus STKIP Melawi, Jl. Kelakik KM 04 Nanga   Pinoh. Kabupaten Melawi – Kalimantan Barat.

info lebih lengkap silahkan unduh brosur SPMB :

 www. BrosurSPMBSTKIPMelawi2011.com

Persyaratan masuk :

  1. Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 300.000,- ke Bank Kalbar dengan no rek, 4525 – 192070 a.n STKIP Melawi.
  2. Mengambil formulir yang disediakan di Kampus STKIP Melawi Jl. Kelakik KM. 04 Nanga Pinoh dengan menunjukkan slip pembayaran yang asli atau klik di www.formulirSPMB2011.STKIP.com
  3. Menyerahkan berkas yang berisi :
    1. Fotocopi slip pembayaran sebanyak 1 lembar.
    2. Formulir pendaftaran yang telah terisi.
    3. Foto kopi ijazah/Surat Keterangan Kelulusan yang telah dilegalisir sebanyak 1 lembar.
    4. Pas photo berwarna terbaru 2 x 3, 3 x 4 & 4 x 6 masing-masing 3 lembar.
  4. Ujian Tes Seleksi dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2011 sampai dengan 25 Juni 2011.
  5. Pengumuman kelulusan tanggal 30 Juni 2011.

 

 

Seminar “Pendidikan Karakter”

Untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional Tahun 2011, Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Melawi akan mengadakan Seminar Pendidikan dengan tema :

“Kebijakan Umum Pendidikan Karakter”

Oleh : 1. Drs. Syamsul Arifin, M.Si. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Melawi

               2. Abdul Hadi, S.Pd.,M.Pd. Ketua PGRI Kabupaten Melawi

” Pendidikan Bersendikan Pendidikan Nilai Dalam Rangka Pembentukan Karakter Bangsa”

Oleh : 1. Dr. Rif’at Hamdy.

               2. Yakobus Ason, S.Pd., M.Pd.

               3. Muhtar, S.Pd., M.Pd.

Seminar tersebut akan diadakan pada Hari Rabu 25 May 2011, bertempat di Aula STKIP Melawi, Jl. Kelakik KM 4 Nanga Pinoh-Kalimantan Barat. Dengan pembicara :

Pendaftaran Seminar akan dibuka pada tanggal 13 May – 24 May 2011 dengan biaya pendaftaran sebesar Rp. 50.000,- dengan jumlah peserta dibatasi hanya 100 pendaftar.

untuk info lebih lanjut silahkan menghubungi panitia seminar dengan cara; (1) Mendaftar langsung ke STKIP Melawi atau (2) Menghubungi contact person a.n Mohtar Hamdan, M.Pd di +6208 5654 22367 &  Nelly Wedyawati,S.Si di +6208 5750 676769.

PROGRAM PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SEKOLAH DASAR DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN KTSP, SILABUS DAN RPP MELALUI ASESMEN PORTOFOLIO HASIL PELATIHAN DI KECAMATAN MENUKUNG KABUPATEN MELAWI KALIMANTAN BARAT

Oleh, Yakobus Ason, M.Pd

Latar Belakang

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), merupakan tuntutan pelaksanaan pembaharuan pendidikan yang diharapkan dapat mendukung segala upaya untuk memecahkan masalah pendidikan. Dalam proses pembelajaran, kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting, selain guru, sarana dan prasarana pendidikan lainnya. Oleh karena itu, kurikulum digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pendidikan dan sekaligus sebagai salah satu indikator mutu pendidikan. Di Indonesia tercatat telah lima kali revisi kurikulum pendidikan dasar dan menengah, yaitu pada tahun 1968, tahun 1975, tahun 1984, tahun 1994 dan ujicoba kurikulum tahun 2004 yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang direvisi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. Revisi kurikulum tersebut bertujuan untuk mewujudkan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, guna mengantisipasi perkembangan jaman, serta untuk memberikan guideline atau acuan bagi penyelenggaraan pembelajaran di satuan pendidikan. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa, ”Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan, dan kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik”.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum baru hasil uji coba Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Oleh karena itu ketika draf kurikulum (KTSP) disosialisasikan hangat dibicarakan di mana-mana, baik oleh pemerintah maupun oleh para pelaksana pendidikan di lapangan.   Hal ini terjadi karena keberadaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ini sempat membingungkan bagi sebagian orang yang berkecimpung dan menaruh perhatian terhadap pendidikan. Bahkan komentar yang sering kita dengar adalah,”ganti Menteri ganti kebijakan, ganti juga kurikulum.” Padahal dengan KTSP ini diharapkan menjadi ”dongkrak” kualitas pendidikan yang kondisinya semakin terpuruk dan mengkhawatirkan.

Menurut Khaeruddin (2007), ”Kurikulum Tigkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum yang paling tepat untuk menjebatani kesalahpahaman berbagai pihak dalam menafsirkan kurikulum. Kurikulum bukan merupakan sesuatu yang sekali jadi, namun kurikulum itu harus fleksibel dan selalu dinamis. Dengan demikian bisa membentuk  dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi sekolah, karakteristik peserta didik, dan kebutuhan lingkungan masing-masing. Jadi perubahan kurikulum merupakan proses berlanjut dan berkesenambungan menuju suatu kesempurnaan.”

Namun karena dalam pelaksanaannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini menuntut prakarsa Kepala Sekolah dan Guru di setiap satuan pendidikan untuk menggerakkan mesin utama pendidikan yakni pembelajaran, maka dirasa sangat memberatkan mereka. Apalagi para Guru dituntut untuk menyusun sendiri kurikulum yang sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing adalah merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan sangat berat bagi mereka, sehingga muncul komentar atau persepsi bahwa KTSP membebani guru.

Ketika pertama kali KTSP dicanangkan sebagai kurikulum, para pengawas, kepala sekolah dan guru merasa bingung , resah, dan was-was karena seolah-olah dengan keberadaan KTSP pekerjaan mereka terutama para guru beban tugasnya bertambah. Tugas dan tanggung jawab guru dalam kurikulum ini bertambah berat, karena KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan ujung tombaknya adalah guru dan kepala sekolah. Dalam KTSP , kiprah guru lebih dominan lagi, terutama dalam menjabarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, tidak saja dalam program tertulis tetapi juga dalam pembelajaran nyata di kelas.  Pelaksanaan KTSP ini mengacu pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 dikatakan :

1.     Pengembangan kurikulum dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

2.     Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip deverervikasi sesuai dengan satuan pendidiikan, potensi daerah, dan peserta didik.

3.     Kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).”

Dalam kaitannya dengan pengembangan stadar kompetensi, guru harus mampu menyusun silabus dan  mengembangkannya sebagai penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi standar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). 

Penyusunan silabus harus dikembangkan dengan memperhatikan prinsip ilmiah, relevan, fleksibel, dan menyeluruh. Dengan demikian tugas guru dan kepala sekolah dalam rangka implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan ini tidaklah mudah bahkan boleh dikatakan sulit sekali. Walaupun pada prinsipnya KTSP sebenarnya bukan hal yang baru, melainkan hanya modifikasi dari kurikulum yang sudah ada. Akan tetapi mau tidak mau model KTSP menuntut kreativitas, kesiapan dan profesionalisme guru serta menjadi peluang untuk mengembalikan otonomi pendidikan, otonomi sekolah dan otonomi guru dalam menyusun model pendidikan yang sesuai dengan kondisi lokal.

KTSP sesungguhnya menjadi peluang bagi sekolah, kepala sekolah dan guru untuk melaksanakan otonomi pendidikan sebagai dampak dari adanya desentralisasi pendidikan. Hal ini singkron dengan apa yang telah dicanangkan mengenai konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Sebagaimana yang dikatakan oleh Martin Handoko, bahwa manajemen berbasis sekolah sebagai sistem manajemen yang bertumpu pada pola situasi-kondisi dan kebutuhan sekolah setempat. Sekolah diharap mengenali kekuatan dan kelemahannya, potensi-potensinya, peluang dan ancaman yang dihadapinya, sebagai dasar dalam menentukan kebijakan-kebijakan pendidikan yang akan diambilnya.

Berdasarkan analisis di atas lalu sekolah dapat dengan tepat menentapkan program-program pengembangannya untuk jangka waktu tertentu yang mungkin berbeda dari sekolah yang lain. MBS dikembangkan dengan kesadaran bahwa setiap sekolah memiliki kondisi, situasi serta kebutuhan yang berbeda-beda.”

Bagaimana kondisi di lapangan ? Kenyataan menunjukkan bahwa meskipun KTSP sudah disosialisasikan sejak empat atau lima tahun yang lalu, namun pada kenyataanya sampai saat ini tidak semua sekolah  mampu mengimplementasikannya, terutama sekolah-sekolah yang terdapat di daerah pedalaman yang terpencil dan jauh dari kota. Situasi yang dialami di lapangan dengan ketidak siapan sekolah untuk melaksanakan KTSP, bisa dipahami karena selama Orde Baru dengan diterapkannya sentralisasi pendidikan oleh pemerintah pusat para guru sebagai pelaksana pendidikan di lapangan tidak pernah dilibatkan dalam penyusun kurikulum. Selama ini kurikulum dibuat oleh pemerintah pusat secara sentralistik dan berlaku bagi seluruh anak bangsa di seluruh tanah air Indonesia. Karena kurikulum dibuat secara sentralistik, setiap satuan pendidikan diharuskan untuk melaksanakan dan mengiplementasikannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) yang disusun oleh pemerintah pusat menyertai kurikulum tersebut. Dalam hal ini, setiap sekolah tinggal menjabarkan kurikulum yang dibuat oleh pusat (pusat kurikulum/puskur, sekarang Badan Standar Nasional Pendidikan/BSNP) ke dalam satuan pelajaran sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Oleh karena itu para guru terbiasa dengan juklak dan juknis kurikulum yang mereka terima dan melaksanakannya sesuai dengan juklak dan juknis tersebut, akibatnya kreativitas dan otonomi mereka sebagai guru terhambat.

Karena terbiasa disuguhkan dengan kurikulum yang sudah jadi baik oleh Dinas Pendidikan sendiri maupun oleh para penerbit buku ajar, menyebabkan para guru kurang kreatif di dalam mengembangkan kurikulum. Oleh karena itu bisa dimengerti, ketika harus menyusun sendiri kurikulum sekolahnya, para kepala sekolah dan guru mengalami kesulitan besar.

Fakta membuktikan bahwa di Kecamatan Manukung Kabupaten Melawi dan mungkin juga di daerah lain yang terpencil, KTSP belum dilaksanakan sebagaimana menstinya. Berdasarkan pengalaman para guru PNS dan guru kontrak yang mengikuti penyetaraan D-II  program khusus pendidikan guru dalam jabatan yang diselenggarakan STKIP Melawi tahun akademik 2008/2009 yang lalu, dijumpai bahwa mereka masih mengajar menggunakan Kurikulum  Berbasis Kompetensi (KBK), bahkan kurikulum 1994 atau1999. Berdasarkan pengalaman tersebut maka perlu diadakan pelatihan dalam rangka implementasi KTSP bagi guru-guru yang bertugas di daerah terpencil.

Perguruan Tinggi sebagai pusat pemeliharaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bertujuan untuk mendidik mahasiswa dan dosen agar berjiwa penuh pengabdian serta memiliki gairahan untuk meneliti dan memiliki sikap tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara. Kiprah Perguruan Tinggi bagi usaha pembangunan nasional dan daerah ini perlu ditingkatkan peranannya sesuai dengan kebutuhan saat ini dan di masa-masa mendatang.

Berkenaan dengan hal tersebut, maka Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) merupakan salah satu unsur penting dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, Ketiga unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut wajib dilaksanakan oleh segenap Civitas Akademika Perguruan Tinggi  dengan ujung tombaknya adalah dosen dan mahasiswa. Pengabdian kepada masyarakat wajib dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa baik secara individu maupun secara berkelompok yang diprogramkan  oleh Perguruan Tinggi atau oleh unit tertentu dalam lembaga atau institusi Perguruan Tinggi. 

Sebagai lembaga/institusi baru, STKIP Melawi sebagai salah satu Perguruan Tinggi yang ada di daerah, memiliki peranan penting dalam rangka ikut serta membangun bangsa melalui dunia pendidikan tinggi. Oleh karena itu keberadaan STKIP Melawi diharapkan mampu mengemban tugas dan tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daereh dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional


Rumusan Masalah 

Pengembangan Program Peningkatan Kompetensi Guru SD dalam Implementasi KTSP Melalui Asesmen Portofolio tersebut dijabarkan berupa pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1.  Bagaimana kompetensi awal guru-guru SD tentang KTSP dan   pemahaman mereka tentang asesmen portofolio ?

2. Bagaimana mengembangkan pemahaman guru tentang Silabus dan RPP   melalui asesmen portofolio ?

3.   Bagaimana mengembangkan keterampilan guru dalam menyusun  silabus dan RPP ?

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa  kompetensi guru  sekolah dasar dalam mengimplementasikan KTSP melalui asesmen portopolio dapat ditingkatkan Program peningkatan kompetensi guru tersebut perlu dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan dalam rangka menyelesaikan permasalahan pembelajaran guru di kelas. Dalam pelaksanaan program pelatihan ini menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan sistematika, prosedur dan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam rangka memahami KTSP. Selanjutnya metode tugas mengerjakan Lembaran Kerja Terbimbing (LKT), merupakan metode pelatihan yang efektif dalam rangka memudahkan peserta pelatihan memahami tentang KTSP, Silabus dan RPP serta asesmen portofolio.

Melalui tugas kelompok untuk mengerjakan Lembar Kerja Terbimbing (LKT) peserta pelatihan memiliki kemampuan dan keterampian dalam menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajara (RPP).

Hasil pelatihan menunjukkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan antara kompetensi awal  guru sebelum diadakannya pelatihan dan kompetensi akhir guru setelah diadakannya pelatihan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pengermbangan program pelatihan dalam rangka peningkatan kompetansi guru SD dalam mengimplementasikan KTSP melalui asesmen portopolio yang dirancang oleh peneliti sudah sesuai  dengan  tujuan yang diharapkan.

Daftar Pustaka

Donna H, et al. (1991). Teaching Young Children Using Themes. Michigan: Good Year Books

Fogarty, R. (1997). Problem-Based Learning and Other Curriculum Models  for the Multiple Intelligences Classroom. Australia: Hawker Brownlow Education.

Fogarty, R. (1991). How to Integrate the Curricula. Illinois: IRI/Skylight Publishing, Inc. Palatine,

Gall, M.D., Gall, J.P. & Borg, W.R. (2003). Educational Research. Boston: Pearson Education, Inc.

Gansle, A.K, Gilberston N.D, and van DerHeyden, M.A. (2006). Elementary School Teachers’ Perceptions of Curriculum-based Measures of Written Expression,  Practical Assessment, Research and Evaluation, A peer-reviewed electronic journal. 11, (5), 1-17.

Hinduan, A.A, dkk. (2001). The Development of Teaching and Learning Science Models at Primary School and Primary School Teacher Education. Bandung:  Graduate Program- Indonesian University of Education

Khalick, A.F. (2006). Preservice and Experienced Biology Teachers’ Global and Specific Subject Matter Structures : Implications for Conceptions of Pedagogical Content Knowledge. Eurasia Journal of Mathematics, Science and Technology Education, 2, (1), 1-29

Klenowski, V. (2002). Developing Portfolios For Learning and Assessment, Processess and Principles. London: Routledge Falmer

Khaeruddin H,dkk. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP, Konsep dan Implementasinya di Madrasah. Semarang: Nuansa Aksara

Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi KTSP dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru. Jakarta: PT.Rajagrafindo Persada

Meinbach, A.M, Rothlein L. and Fredericks, A.D. (1995). The Complete Guide to Thematic Units: Creating the Integrated Curriculum. Noorwood, MA: Christopher-Gordon Publishers, Inc.

Montie, J, Xiang, Z. and Schweinhart, J.L. (2006).  Preschool Experience in                  10  Countries : Cognitive and Language Performance at Age 7. Early Childhood Research Quarterly. 21, (3), 313-331

Martin Handoko. 2004. Idealisme dan Praktisi Pendidikan Pangudi Luhur. Semarang : PHPL

Mulyasa E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Nurdin Syafruddin. 2005. Guru Profesional & Implementasi Kurikulum. Jakarta: Quantum Teaching.

Tim Pustaka Yustisia.  2007. Panduan Lengkap KTSP. Yogyakarta : Pustaka Yustisia

Usman, Uzer. 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung, PT.Remaja Rosdakarya.

Undang-undang RI Nomor 20  Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tantang Guru dan Dosen

Yamin Martinis H. 2007. Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP. Jakarta : Gaung Persada Press Jakartng

Zainul, A. (2005). Alternative Assessment. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas.

 

untuk format pdf, silahkan klik PROGRAM PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SEKOLAH DASAR DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN KTSP, SILABUS DAN RPP MELALUI ASESMEN PORTOFOLIO HASIL PELATIHAN DI KECAMATAN MENUKUNG KABUPATEN MELAWI KALIMANTAN BARAT

 

 

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN MOTIVASI BERPRESTASI GURU TERHADAP LAYANAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH MENENGAH ATAS SE-KECAMATAN NANGA PINOH KABUPATEN MELAWI KALIMANTAN BARAT

Oleh

DEKI WIBOWO, M.Pd

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Se-Kecamatan Nanga Pinoh yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap layanan Pendidikan, seberapa besar pengaruh Motivasi Berprestasi terhadap Layanan Pendidikan maupun seberapa besar pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Motivasi Berprestasi guru terhadap layanan pendidikan secara simultan.

Hipotesis penelitian yang diuji adalah : (1) terdapat pengaruh langsung positip Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Layanan Pendidikan, (2) terdapat pengaruh langsung positp motivasi berprestasi guru terhadap layanan pendidikan, (3) terdapat pengaruh langsung positip Gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap motivasi berprestasi guru.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif melalui survey dengan pendekatan Analisis Jalur (Path Analysis). Pengolhan data dengan ternik deskriftif analisis.

Populasi dalam penelitian adalah guru-guru SMA Se-Kecamatan Nanga Pinoh sebanyak 145 orang dari 7 Sekolah Menengah Atas, secara focus dipilih 3 SMA sebagai sampel penelitian yang diambil dengan teknik simple random sampling, dengan jumlah sampel 58 orang guru produktif.

Instrument yang digunakan untuk menjaring data variable Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Berprestasi Guru dan Layanan Pendidikan adalah angket model skala likert. Sebelum dilakukan penelitian dilakukan uji coba instrument terhadap 30 orang guru. Keterandalan instrument di hitung dengan metode Alpha Cronbach, dengan hasil uji coba untuk variable tersebut yaitu (a) layanan Pendidikan telah diperoleh nilai reliability r = 0,827, (b) Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah memiliki nilai reliabilitas r = 0,924 dan Motivasi berprestasi Guru memiliki nilai reliabilitas r = 0,917 sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh instrument dinyatakan sangat reliable, kemudian data di analisis dengan menggunakan teknik korelasi dan regresi.

Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: pertama, terdapat pengaruh langsung dan signifikan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) terhadap layanan Pendidikan (X3) dengan persamaan regresi terlihat,   X3= 60,7099+0,2216 X1, koefisien determinasi sebesar 0,2497 atau 24,97%, dan koefisien korelasi (r 13 ) sebesar 0,499 pada taraf α = 0,05, kedua   terdapat pengaruh langsung dan signifikan Motivasi Berprestasi Guru (X2) terhadap Layanan Pendidikan (X3)  dengan persamaan regresi terlihat  X3= 12478,1073+0,529X2,  koefisien determinasi sebesar 0,23338 atau 23,338%, dan koefisien korelasi (r ) sebesar 0,4831 pada taraf α = 0,05, ketiga terdapat pengaruh langsung dan signifikan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) terhadap Motivasi Berprestasi Guru (X2) dengan persamaan regresi terlihat X2 = 14,006 + 0,632X1 koefisien determinasi sebesar 0,9920 atau 99,20% dan koefisien korelasi (r) sebesar 0,996 pada taraf α = 0,05.

Hasil penelitian ini diharapkan akan berguna bagi peningkatan kualitas Layanan Pendidikan untuk keberhasilan bagi proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Melalui konstribusi yang sangat besar terhaap model Gaya Kepemimpinan yaitu pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Motivasi Berprestasi Guru yang berada di lingkungan tempat bekerja yaitu lingkungan sekolah. Berdasarkan realita yang penulis analisis bahwa disarankan kepada kepala sekolah agar dapat menciptakan Layanan Pendidikan yang baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Hasil penelitian ini diharapkan akan berguna bagi peningkatan kualitas Layanan Pendidikan untuk keberhasilan bagi proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Melalui konstribusi yang sangat besar terhaap model Gaya Kepemimpinan yaitu pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Motivasi Berprestasi Guru yang berada di lingkungan tempat bekerja yaitu lingkungan sekolah. Berdasarkan realita yang penulis analisis bahwa disarankan kepada kepala sekolah agar dapat menciptakan Layanan Pendidikan yang baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Hasil penelitian ini diharapkan akan berguna bagi peningkatan kualitas Layanan Pendidikan untuk keberhasilan bagi proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Melalui konstribusi yang sangat besar terhaap model Gaya Kepemimpinan yaitu pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Motivasi Berprestasi Guru yang berada di lingkungan tempat bekerja yaitu lingkungan sekolah. Berdasarkan realita yang penulis analisis bahwa disarankan kepada kepala sekolah agar dapat menciptakan Layanan Pendidikan yang baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.koefisien determinasi sebesar 0,9920 atau 99,20% dan koefisien korelasi (r 23 ) sebesar 0,996 pada taraf α = 0,05.

Hasil penelitian ini diharapkan akan berguna bagi peningkatan kualitas Layanan Pendidikan untuk keberhasilan bagi proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Melalui konstribusi yang sangat besar terhaap model Gaya Kepemimpinan yaitu pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Motivasi Berprestasi Guru yang berada di lingkungan tempat bekerja yaitu lingkungan sekolah. Berdasarkan realita yang penulis analisis bahwa disarankan kepada kepala sekolah agar dapat menciptakan Layanan Pendidikan yang baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

DAFTAR PUSTAKA 

Arno. F. Wittig, 1988. Theory and Problems of Introduction to Psychology (New York :McGraw Hill Co).

Bambang Tri Cahyono. 1996. ManajemenSumberDayaManusia.Jakarta :BadanPenerbit IPWI.

Covey, Stephen R. the 8th Habit From Effectiveness to Greatness. London: Simon & Schuster UK Ltd.

Depdiknas. 2003. Undang-UndangRepublik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentangSisdiknas.Jakarta :Depdiknas.

DadangSuhardan. 2010. SupervisiProfesionalLayanandalamMeningkatkanMutuPengajaran di Era    Otonomidaerah.Bandung : ALFABETA.

DannSugandha. 1991. AdministrasiStrategik,TaktikdanTeknikPenciptaanEfisiensi. Jakarta :Intermedia.

DepartemenPendidikanNasional. 2005. PedomanAdministrasiSekolahMenegahPertama.Jakarta : BP. Dharma Bhakti.

Edward Sallis. 2010. Total Quality Management in Education ManajemenMutuPendidikan.Terjemahan Dr. Ahmad Ali Riyadi.Edisike Sembilan.Jogjakarta :IRCiSod.

Hamzah B. Uno.2009. TeoriMotivasidanPengukurannya.Jakarta :BumiAksara.

H.A.R. Tilaar. 2004. ParadigmaBaruPendidikanNasional.Jakarta : PT RinekaCipta.

Haryono S. 2006. KepemimpinanPeran Serta danProduktivitas.Bandung :MandarMaju.

J Arnold Hugh and Daniel C. Feldman. 1997. Organizational Behavior. New York :McGrawHill Book Company.

Jerome S. Arcaro. 2007. Quality in Education An Implementation Handbook. TerjemahanYosalIriantara. EdisikeEmpat.Jogjakarta : PUSTAKA PELAJAR.

James J. Cribbin.KepemimpinanMengefektifkanStrategiOrganisasi. TerjemahanNy. RochmulyatiHamzah. Jakarta : PT. PustakaBinamanPressindo, 1990.

J. Salusa, 1996. PengambilanKeputusanStratejikuntukOrganisasiPublikdanOrganisasi Nonprofit, Jakarta : PT GramediaWidiasarana Indonesia.

Kertonegoro. 1994.ManajemenOrganisasi. Jakarta :Widya Press.

Kunandar.2009.  Guru ProfesionalImplementasikurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP) danSuksesdalamSertifikasi Guru.Jakarta : PT RajaGrafindoPersada. 

Laurance Frederic Sfafter and Edward Joseph Shoben, Jr. 1956.The Psychology of Adjusment.Boston : Mifflin Co. 

MiftahThoha. 2010. KepemimpinandalamManajemen.Jakarta : PT RajaGrafindoPersada. 

Muhammad syafii Antonio. 2007.  Muhammad SAW The Super Leader Super Manager. Jakarta :Tazkia Multimedia danProLM Centre. 

Mulyono.2008. ManajemenAdministrasidanOrganisasiPendidikan.Jogjakarta : AR-RUZZ MEDIA. 

Nana Sutisna. 1993. AdministrasiPendidikan :DasarTeoritisdanPraktekProfesional.Bandung :Angkasa. 

Riduwan.2005. BelajarMudahPenelitianuntuk guru – karyawandanpenelitipemula.Bandung :Alfabeta. 

Rusman. 2009. ManajemenKurikulum. Jakarta :Rajawali Pers.

Rusman. 2009. ManajemenKurikulum.Jakarta : PT RajaGrafindoPersada. 

SantosaMurwani. 1999. StatistikaTerapan. Jakarta :PascasarjanaUniversitasNegeri Jakarta. 

SantosaMurwani. 2005. Model Proposal PnelitianSurveiKausal. Jakarta : Program PascaSarjanaUniversitasMuhammadiyah Prof. DR. HAMKA. 

SyaifulSagala. 2009. ManajemenStrategikDalamPeningkatanMutuPendidikan. Bandung : ALFABETA. 

Sopiah. 2008.PerilakuOrganisasional.Yogjakarta : CV ANDI. 

Stephen P. Robbins. 2008. PrilakuOrganisasi. Jakarta : PT Indeks. 

Sondang P. Siagian. 2002.KiatMeningkatkanProduktivitasKerja. Jakarta :RinekaCipta. 

Stephen P. Robbins. 1986. Organizational Behavior, (New Jersey: Printice Hall Cliffs). 

Sugiyono.2005. MetodePenelitianadministrasi.Bandung :Alfabeta. 

Sudjana. 1992. MetodeStatistika.Bandung :Tarsito.

Sudjana. 1992. TeknikAnalisisRegresiKorelasi. Bandung :Tarsito. 

Tim DosenAdministrasiPendidikan UPI. 2009. ManajemenPendidikan. Bandung : ALFABETA. 

Thomas L. Good and Jere E. Brophy. 1990. Educational Psychology. A Realistic Approach (New York: Longman). 

Undang-Undang BHP (BadanHukumPendidikan).Undang-UndangRepublik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentangBadanHukumPendidikan.Yogyakarta :PustakaYustisia. 

VeithzalRivaidanDeddyMulyadi. 2009. KepemimpinandanPrilakuorganisasi.EdisiKetiga. Jakarta : PT RajaGrafindoPersada. 

Wirawan. 2002. KapitaSelekta. TeoriKepemimpinan. PengantaruntukPraktekdanPenelitian.Jilid 2.Jakarta :Uhamaka Press danYayasanBangun Indonesia. 

Wahjosumidjo. 1997. Kepemimpinan. Jakarta :PusatPendidikandanLatihanPegawaiDepdikbud. 

W.S. Winkel. 1996.  PsikologiPengajaran. Jakarta :Grafindo. 

WahyoSumidjo. 1992. KepemimpinandanMotivasi.Jakarta :Ghalia Indonesia.

 

 

 



DESKRIPSI KALIMAT MATEMATIKA SISWA DAN GURU DARI SOAL CERITA YANG BERKAITAN DENGAN OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT DI KELAS VII SMP NEGERI 14 PONTIANAK

Oleh

RIZKY OKTORA PRIHADINI EKA PUTRI, S.Pd

Latar belakang penelitian ini adalah kenyataan di lapangan memberi gambaran bahwa siswa sulit untuk memahami soal matematika yang berbentuk cerita. Kesulitan siswa memahami soal matematika yang berbentuk cerita akan mengakibatkan kesalahan siswa dalam membuat kalimat matematika, sehingga penyelesaian soal tersebut menjadi salah pula. Sesuai dengan penelitian Yenny (2007) bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika antara lain disebabkan oleh kesalahan siswa menuliskan kalimat matematikanya yaitu sebesar 51, 43%. Dipilih kelas VII SMP karena kelas VII merupakan transisi dari SD ke SMP, dimana telah terjadi perkembangan kognitif / intelek siswa yakni dari tahap operasional konkrit (7 – 11 tahun) ke tahap operasional formal (11 tahun ke atas). Perkembangan kognitif / intelek siswa menyebabkan perubahan cara berpikir siswa, yang tadinya bersifat konkrit menjadi mulai mampu untuk berpikir abstrak (Wilis: 1996, 154). Hal ini menyebabkan, terjadi perubahan pula pada cara berpikir siswa dalam menangkap dan memahami makna dari kalimat – kalimat yang ada pada soal cerita. Selain itu, di SD pembelajaran soal cerita terutama yang berkaitan dengan kalimat matematika kurang ditekankan hal ini diketahui dari hanya sebesar 16, 54% yaitu hanya 21 Kompetensi Dasar (KD) dari 127 Kompetensi Dasar (KD) di SD yang memuat tuntutan kemampuan yang berkaitan dengan soal cerita (BSNP: 2006), padahal penggunaan kalimat matematika yang tepat sangat penting dalam penyelesaian suatu soal cerita dan ada hingga jenjang yang lebih tinggi.

Masalah umum dalam penelitian ini adalah ”Bagaimana kalimat matematika siswa dan guru dari soal cerita yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan bulat di kelas VII SMP Negeri 14 Pontianak?”. Adapun masalah umum tersebut dapat dikelompokkan dalam sub – sub masalah antara lain: (1) Bagaimana kalimat matematika yang disusun oleh siswa dari soal cerita yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan bulat? (2) Bagaimana kalimat matematika yang disusun oleh guru dari soal cerita yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan bulat? (3) Bagaimana kinerja siswa dalam menyusun kalimat matematika dari soal cerita yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan bulat?. Tujuan umum dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kalimat matematika siswa dan guru dari soal cerita yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan bulat di kelas VII SMP. Tujuan tersebut dirincikan sebagai berikut: (1) Mendeskripsikan kalimat matematika yang disusun oleh siswa dari soal cerita yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan bulat (2) Mendeskripsikan kalimat matematika yang disusun oleh guru dari soal cerita yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan bulat (3) Mendeskripsikan kinerja siswa dalam menyusun kalimat matematika dari soal cerita yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan bulat.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan bentuk penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 14 yang berjumlah 240 siswa dari kelas VII A, VII B, VII C, VII D, VII, E dan VII F  yang masing – masing kelas terdiri dari 40 siswa sedangkan untuk sampel penelitian dari tiap kelas diambil secara random dengan cara diundi 5 siswa dari tiap kelas sehingga diperoleh 30 siswa dan 2 orang guru matematika kelas VII SMP Negeri 14. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik nontes yang dilengkapi dengan wawancara klinis. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes kinerja. Teknik pengolahan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan statistik deskriptif.

Berdasarkan evaluasi kinerja siswa secara umum, untuk soal terbimbing diketahui bahwa siswa yang dapat menjawab dengan benar dan jawaban tersebut dapat dikenali sebesar 52,78%, siswa yang dapat menjawab dengan benar tapi jawaban tersebut tidak dapat dikenali sebesar 2,22%, siswa yang menjawab salah dan jawaban tersebut dapat dikenali sebesar 39,44%, siswa yang menjawab salah tapi jawaban tersebut tidak dapat dikenali sebesar 5,56%. Untuk soal tidak terbimbing diketahui bahwa siswa yang dapat menjawab dengan benar dan jawaban tersebut dapat dikenali sebesar 35,83%, siswa yang dapat menjawab dengan benar tapi jawaban tersebut tidak dapat dikenali sebesar 3,33%, siswa yang menjawab salah dan jawaban tersebut dapat dikenali sebesar 45,83%, siswa yang menjawab salah tapi jawaban tersebut tidak dapat dikenali sebesar 15%. Dari hasil evaluasi kinerja ini apabila dikaitkan dengan kriteria ketuntasan sebesar 75% berarti kinerja (kemampuan) siswa dalam mengubah (menafsirkan) soal cerita menjadi kalimat matematika yang benar masih belum tuntas (kurang).

Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi bahwa siswa masih kesulitan dalam mengubah soal cerita menjadi kalimat matematika baik untuk soal tes terbimbing maupun soal tes tidak terbimbing. Hal ini dikarenakan keterbatasan bahasa matematika yang dimiliki oleh siswa. Selain itu, banyak siswa yang melakukan kesalahan dalam pengopersian dan penggunaan sifat – sifat yang ada pada operasi hitung. Sehingga jawaban akhir menjadi salah, padahal mereka sudah mampu mengubah (menafsirkan) soal cerita menjadi kalimat matematika dengan benar. Untuk penelitian selanjutnya disarankan intrumen untuk menggali kinerja dalam soal cerita lebih dikembangkan dan untuk uji coba sampelnya diperbanyak dalam rangka memperkaya objektivasi.

 DAFTAR PUSTAKA

Animan. 1998. Deskripsi Kemampuan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Matematika berbentuk Cerita Pada Kelas I SLTP 10 Pontianak Selatan. Skripsi. Pontianak: FKIP UNTAN

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Azwar, A.& Prihartono, J. 1987. Metodologi Penelitian kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT. Bina Rupa Aksara

BSNP. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah. Jakarta: BSNP

Eka, Novita. 2006. Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Tentang Operasi Hitung Bilangan Bulat menggunakan Teori Bruner. Skripsi. Semarang: Univ. Negeri Semarang

Fathoni, AH. 2009. Bahasa Matematika. [Online]. Tersedia. http://sigmetris.com/index.php?option=com_content&task=view&id=33&Itemid=28 [12 Maret 2009]

Hadari, Nawawi. 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial.Pontianak: FKIP UNTAN

Hudiono, Bambang. 2005. Dimensi Pembelajaran Matematika. FKIP UNTAN

Polya, George. 1962. Mathematical Discovery.New York: Princenton Univercity Press

Machmuni, Fauziah. 2000. Kemampuan mahasiswa D-II PGSD Dalam Pengajaran Soal Cerita Pembagian. Tesis. Surabaya: Prodi Matematika UNS

Maulidiyah, Yenny. 2007. Analisis Kemampuan Siswa Menggunakan Langkah – Langkah Polya Dalam Menyelesaikan Soal – Soal Cerita Pada Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel Di Kelas VIII SMP. Skripsi. Pontianak: FKIP UNTAN

Melandy, Santy. 2000. Analisis Buku Teks Matematika Untuk Memprediksi Keterlibatan Siswa Dalam Mempelajari Matematika Di Kelas IV Sekolah Dasar. Skripsi. Pontianak. FKIP UNTAN

MS, Kaelan. 2002. Filsafat Bahasa (Realitas Bahasa, Logika Bahasa, Hermeneutika dan Postmodernisme). Yogyakarta: Paradigma

Nazir, Muhammad. 1998. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia

Prawironegoro. 1995. Evaluasi hasil Belajar Khusus Analisis Soal Matematika Bidang Studi Pendidikan Matematika. Jakarta: Fortuna

Ruhiyat, Enjang. 2010. Matematika Sebagai Bahasa Universal. [Online]. Tersedia. http://www.enjang-ruhiat.web.ugm.ac.id/?p=7

Saidi, I Acep. 2008. Hermeneutika, Sebuah Cara Untuk Memahami Teks. [Online]. Tersedia. http://jiwangga.com/index.php?option=com_content&view=article&id=10%3Ahermenutik&catid=14%3Acatatan&Itemid=4&showall=1 [April 2008]

Salman, B. 1992. Profil Penyelesaian Soal Mtematika Berbentuk Cerita Pada  Siswa Kelas VI SD Negeri No 6 dan No 10 Di Kecamatan Pontianak Timur. Skripsi. Pontianak: FKIP UNTAN

Sruiasumantri, Jujun S. 2001. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:  Pustaka Sinar Harapan

Subagyo, Pangestu. 2003.  Statistik Deskriptif. Yogyakarta: BPFE

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: CV. Alfabeta

Sumarmo, 1994. Suatu Alternatif Pengajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematika Pada Guru dan Siswa SMP. Laporan penelitian IKIP Bandung. Bandung: Tidak diterbitkan.

Tapilouw, M. 1992. Pengajaran Matematika Di Sekolah Dasar Dengan Pendekatan CBSA. Bandung: Sinar Baru

TIM MKPBM, 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

Wagio, dkk. 2008. Pegangan Belajar matematika I Untuk SMP/ MTs Kelas VII. Jakarta: PT. Galaxy Puspa Mega

Wahyudi, Sigit. 1998. Analisis Kemampuan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal – Soal Cerita Pada Topik Persamaan Kuadrat Di Kelas III SLTP. Skripsi. Pontianak: FKIP UNTAN

Wijayanti, Dwiaryanti. 2005. Menyelesaikan Soal – Soal Cerita Pokok Bahasan Persamaan Linier Dua Peubah Dengan Metode Polya Pada Siswa Kelas II-C Semester 2 SLTP Negeri 4 Semarang. [Online]. Tersedia. http//digilib.unnes.ac.id//gsdl/collect/skripsi/archives/HAS0163/d2958322.dir/dic.pdf

Wilis, Ratna. 1996. Teori – Teori Belajar. Bandung: Erlangga

 

HUBUNGAN ANTARA KOORDINASI MATA-KAKI, KESEIMBANGAN DINAMIS DAN KELINCAHAN DENGAN KETEPATAN SHOOTING DALAM FUTSAL PADA SISWA PUTRA KELAS XI SMK BHINA KARYA KARANGANYAR TAHUN 2008/2009

Oleh

Kurnia Dyah Anggorowati, S.Pd

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Hubungan antara koordinasi mata kaki dengan ketepatan shooting. (2)  Hubungan antara keseimbangan dinamis dengan ketepatan shooting. (3) Hubungan antara kelincahan dengan ketepatan shooting. (4) Hubungan antara koordinasi mata kaki, keseimbangan dinamis dan kelincahan dengan ketepatan shooting pada siswa putra kelas XI SMK Bhina Karya Karanganyar tahun 2008/2009.

Sesuai dengan tujuan penelitian, maka penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa putra kelas XI SMK Bhina Karya Karanganyar yang mengikuti pembelajaran pengembangan diri futsal berjumlah 60 siswa. Sampel yang digunakan berjumlah 30 siswa dengan teknik pengambilan sampel dengan purposive random sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tes dan pengukuran dalam olahraga yaitu ; (1) Koordinasi mata-kaki diukur dengan Soccer Wall Volley Test (2) Keseimbangan dinamis dengan Modified bass Test of Dynamic Balance. (3) Kelincahan diukur dengan menggunakan Zigzag Dodge Run Test (4) Ketepatan shooting diukur dengan tes Kemampuan Shooting. Teknik analisis data  dilakukan dengan analisis statistik menggunakan korelasi product moment, korelasi ganda dan analisis regresi tiga prediktor pada taraf signifikansi 5%.

Penelitian ini menghasilkan simpulan sebagai berikut ; (1) Ada hubungan antara koordinasi mata-kaki dengan ketepatan shooting dalam futsal dengan rxy = 0,597 > rt5% = 0,361. (2) Ada hubungan antara keseimbangan dinamis dengan ketepatan shooting dalam futsal dengan rxy = 0,526 > rt5% = 0,361. (3) Ada hubungan antara kelincahan dengan ketepatan shooting dalam futsal dengan rxy = -0,610 > rt5% = 0,361. (4) Ada hubungan yang signifikan antara koordinasi mata-kaki, keseimbangan dinamis dan kelincahan dengan  ketepatan  shooting dalam futsal pada siswa putra kelas XI SMK Bhina Karya Karanganyar tahun ajaran 2008/2009 dengan Ry(1,2,3) = 0,782 > rt5% = 0,361 dan F0 = 13,674 > Ft5% = 2,89.

DAFTAR PUSTAKA

A. Hamidsyah Noer. 1994. Ilmu Kepelatihan Dasar.Jakarta :DepdikbudRI Dirjen Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Setara DII.

A. Munandar. 1979. Ikhtisar Anatomi Alat Gerak & Ilmu Gerak.Jakarta : EGC.

A. Sarumpaet. dan Kawan-Kawan. 1992. Permainan Bola  Besar.Surakarta   BPK   PGSD  Universitas    Sebelas    Maret Surakarta.

Ahmad Sofian. 1980. Ilmu Urai Tubuh Manusia.Jakarta : Teragung.

Bompa, Tudor O., 1980. Theory and Methodology of Training.DubuqueIowa : Kendall Hunt Publishing Company.

Harsono, 1988. Coaching dan aspek-aspek Psikologis dalam Coaching.Jakarta: Ditjendikti.

Johnson, B.L. dan Nelson, J.K. 1986. Practical Measurements For Evaluation In Physical Education.New York : Macmillan Publishing Company.

Kirkendall, D.R.,  Gruber, J.J., and Johnson, R.E. 1987. Measurement and Evaluation for Physical Educators.Illinois : Human Kinetics Publishers, Inc.

M. Sajoto. 1995. Pembinaan dan Peningkatan Kondisi Fisik.Semarang : Dahara Prize.

Nurhasan. 2001. Tes dan Pengukuran dalam Pendidikan Jasmani.Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Ditjen Olah Raga.

Russel, P.R., McClenaghan, B. dan Ratella, R. 1993. Dasar-Dasar Ilmiah Kepelatihan. Terjemahan Kasiyo Dwijowonoto.Semarang : IKIP

Soedarminto. 1991. Kinesiologi.Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti

Sukatamsi. 2001. Permainan Besar Sepak Bola I.Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Sudjana. 1996. Metoda Statistika.Bandung : Tarsito.

Sudjarwo. 1992. Ilmu Kepelatihan Dasar.Surakarta:DepdikbudRIUniversitas Sebelas Maret

Suharno  HP.  1985.  Ilmu Coaching  Umum. Yogyakarta  : Yayasan STO.

__________.  1993.  Ilmu Coaching  Umum. Yogyakarta  : Yayasan STO.

Suharsimi Arikunto. 1998.  Prosedur   Penelitian    Suatu       Pendekatan Praktek.Yogyakarta : Rineka Cipta

Sutrisno Hadi. 1989. Statistik 2.Yogyakarta : Andi Offset

___________.  2001. Analisis Regresi. Yogyakarta :  Andi Offset

 

UPAYA MENINGKATKAN KESEGARAN JASMANI BAGI IBU HAMIL DENGAN MELAKUKAN SENAM HAMIL

Oleh

Sri Wahyu Indawati, S.Pd

Kesegaran jasmani adalah keadaan atau kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas atau kegiatan sehari-hari dengan mudah dan tidak mengalami kelelahan yang berarti serta masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya untuk melakukan aktifitas lainnya. Sadoso (1989:9).

Kehamilan (Graviditas), yaitu suatu rangkaian peristiwa yang dimulai dengan konsepsi  (pembuahan) antara sperma dan sel telur yang terjadi di dalam atau di luar rahim, dan berakhir dengan persalinan (dr.Ahmad Isa & Anita Hairunnisa, 2008:27).

Gerakan senam hamil pada umumnya merupakan gerakan relaksasi. Menurut Ervin Indarti, fisioterapis RSI Jemursari Surabaya, senam hamil bermanfaat untuk mempermudah proses kelahiran, mengurangi rasa sakit pada melahirkan, serta memperkuat otot-otot dasar panggul dan dinding perut ibu dalam memperlancar proses kelahiran (Tim Redaksi, 2009:15). Senam hamil adalah latihan-latihan olahraga bagi ibu hamil yang bertujuan untuk penguatan otot-otot kaki, mencegah varises, dan memperpanjang napas. Senam hamil mengajak ibu untuk berlatih agar napasnya lebih panjang dan tetap rileks.

Masalah pokok dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah aktivitas olahraga ringan dan nonkompetitif dengan melakukan senam hamil dapat meningkatkan kesegaran jasmani ibu hamil?, (2) Seberapa besar peningkatan tingkat kesegaran jasmani ibu hamil melalui aktivitas olahraga ringan dan nonkompetitif  setelah melakukan senam hamil?

Berdasarkan permasalahan yang ada, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah: (1)Mengetahui peningkatan kesegaran jasmani ibu hamil melalui aktivitas ringan dan nonkompetitif dengan melakukan senam hamil. (2) Untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kesegaran jasmani ibu hamil melalui aktivitas ringan dan nonkompetitif setelah melakukan senam hamil.

Penelitian ini adalah penelitian tindakan, peneliti dapat mencermati suatu obyek dalam hal ini ibu hamil, menggunakan aktivitas olahraga ringan dan nonkompetitif yang dilakukan ketika hamil dengan melakukan senam hamil untuk meningkatkan kesegaran jasmani ibu hamil. Jenis penelitian ini menggunakan Metode Studi Kasus yaitu mengadakan penelitian terhadap satu kasus secara intensif dan mendalam, maka subjek penelitian ini adalah seorang ibu hamil bernama Ibu Lina (nama samaran) berumur 22 tahun. Instrumen penelitian dalam penelitian ini ialah observasi langsung, yaitu dimana peneliti mengamati langsung jalannya penelitian, dan juga peneliti terlibat langsung di dalam jalannya penelitian.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tingkat kesegaran jasmani Ibu Lina adalah sangat baik. Peningkatan IMT sebesar 2 Kg dalam 1 bulan sesuai dengan area hijau (IMT 20-25) dan Laju Denyut Jantung/Nadi sebelum melakukan senam 110/menit mengalami peningkatan hingga mencapai 140/menit dari total denyut jantung antara 135-150/menit untuk wanita hamil antara usia 20-29 tahun. Ibu dapat melakukan aktivitasnya tanpa mengalami kelelahan. Persis seperti cara pengaturan nafas selama senam hamil, hasilnya Ibu Lina bisa mengatasi rasa sakit yang teramat sangat dengan baik dan proses pengeluaran anak menjadi tidak terlalu sulit serta ibu tidak mengalami kehabisan tenaga saat proses persalinan berlangsung. faktor gizi juga mempengaruhi kesehatan dan kebugaran Ibu Lina serta kesehatan janin / bayinya.

 

 DAFTAR PUSTAKA

Agusneti, Renvilia dan Hendrik Linggarjati. 2009. Senam Hamil Praktis. Yogyakarta : Media Pressindo.

Departemen Kesehatan RI. 2007. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta : Departemen Kesehatan dan JICA ( Japan International Cooperation Agency ).

Isa, Ahmad dan Anita hairunnisa. 2008. Ensiklopedi Kehamilan Panduan Lengkap Hamil Sehat. Yogyakarta : Familia.

Margono, S. 2009. Metodolgi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Maulina, Heni. 2009. Identifikasi Gerakan-gerakan Senam Kesegaran Jasmani Tahun 2000 dan Tahun 2004 ( Studi Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Pakisaji )”. Malang : Skripsi PJKR IKIP Budi Utomo.

Narbuko, Cholid danAbu Achmadi. 2007. Cetakan Kedelapan. “Metodologi Penelitian”. Jakarta : Bumi Aksara.

Riyanti, Siska. 2009. “Upaya Meningkatkan Mutu Kesegaran Jasmani melalui Pendekatan Bermain dan Minat Dalam Memodifikasi Permainan Bola Kaki ( Sepak Bola ) Pada Siswa putra kelas VII A dan B SMP TRI BHAKTI Tegaldlimo Banyuwangi Tahun Pelajaran 2009”. Malang : Skripsi PJKR IKIP Budi Utomo.

Rudianto. 2009. Upaya Meningkatkan Kesegaran Jasmani Melalui Permainan Bentengan Pada Siswa kelas XI SMA Islam Haruniyah Pontianak Tahun Pelajaran 2009/2010”. Malang : Skripsi PJKR IKIP Budi Utomo.

Sulipan. ______. Penelitian Tindakan ( Action Research ). Google : Sulipan@yahoo.com.

Thorn, Gill. 2003. Kehamilan Sehat ( Panduan Praktis Diet, Olahraga, dan Relaksasi Bagi Ibu Hamil ). Jakarta : Erlangga.

Tim Redaksi. 2009. Olahraga Bagi Ibu Hamil dan Menyusui. Yogyakarta : Bayu Media.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.